NAJLA NAILUFAR

Sabtu, 29 Desember 2012

FF "Long Sad Imagine"

 pernahkah kau merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan tanpa alasan yang jelas? Pernahkah kau mencintai seseorang begitu dalam, namun orang itu malah menyakitimu sama dalamnya, dengan cara meninggalkanmu dengan alasan yang amat tak pasti?

-Flashback-
"Kita harus menyudahi hubungan ini." aku menatapnya tak percaya. Menyudahinya? Aku tidak mau!
"Mengapa? Aku tidak mau!"
"Janganlah mempertahankan hubungan ini, atau kau akan tersakiti akhirnya."
Kutatap punggungnya menjauh. Kakiku terasa gatal untuk mengejarnya. Namun.....kubiarkan ia menjauh, ini kemuannya... aku tak bisa menentangnya.. aku tak bisa memaksanya untuk terus mencintaiku..
-Flashback off-

25 Januari 2012

Kau terus hadir dalam mimpiku, disetiap pagi ketika mataku terbuka sampai malam waktunya mataku tertutup lagi, kau selalu menari-nari dalam pikiranku. Kau bukanlah milikku lagi, tapi, aku masih saja mencintaimu. Aku tahu, aku tak seharusnya begini, ini memang salahku, salahku yang masih mencintaimu dan mengharapkanmu. Seharusnya dari awal kau tak harus mencintaimu, bahkan aku tak harus bertemu denganmu. Tapi ini semua memang sudah takdir, takdir bahwa aku harus 'pernah' mengenalmu, dan harus mencintaimu sedalam ini.

“Najla..." aku menengok ke arah suara, kulihat kak David berdiri didepan pintu, menatapku penuh khawatir. Kemudian kak David berjalan kearahku, lalu memelukku sambil mengusap-usap kepalaku.
"Kau memikirkannya lagi?" tanya kak David masih mengelus-elus kepalaku. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum paksa.
"You don't have to be like this Na... masih banyak lelaki lain bukan?" aku menatap kak David miris, 'memang banyak lelaki lain, tapi yang aku sayang dan cintai hanya dia kak' ucapku dalam hati.
"Yasudah ayuk makan malam, kita sudah ditunggu dibawah."
"Kau duluan saja kak, aku mau mencuci mukaku dulu." kak David mengangguk mengerti, lalu keluar kamarku. Sedangkan aku masih terduduk dikasurku, aku menghela nafas panjang, lalu berjalan ke wastafel untuk membasuh mukaku, mengurami sembab dimataku.

...
27 Januari 2012

Aku memutuskan untuk pergi sendirian ke toko buku hari, membeli beberapa novel untuk menemani weekendku yang sepertinya akan tidak menyenangkan. Setelah itu, aku memutuskan untuk membacanya ditaman yang tidak jauh dari rumahku, sekaligus mencari ketenangan ditaman tersebut, aku sangat butuh ketenangan beberapa hari ini.

Baru beberapa menit aku duduk di salah satu bangku panjang ditaman, perasaan ku sudah mulai tidak enak. Entah apa maksud perasaan aneh ku ini, namun hati kecilku memaksaku untuk pergi dari taman sekarang juga. Namun aku hanya mengabaikan perasaan tersebut, lalu melanjutkan membaca novel tebalku.

"i love you"
"i hate you"
"nooo you love me haha"
"no"
"uh okay"
"hahaha no, ofc i do love you so much"

Aku mengangkat kepalanya yang sedaritadi menunduk membaca buku. Mataku kemudian mencari-cari suara lelaki dan perempuan yang sepertinya tak asing ditelingaku, kemudian mataku menangkap dua sosok yang kucari, dua sosok yang sebenarnya tak ingin kutemui sama sekali, dengan miris kutatap dua sosok yang begitu mesra tersebut, lalu setelah itu aku dengan cepat berlari meninggalkan taman, membiarkan beberapa novelku tertinggal dibangku tempatku duduk tadi.

...
29 Januari 2012

Aku rasa aku memang sudah kelewat bodoh, aku seharusnya menghentikan ini semua. Aku harus berhenti mencitaimu, dan berakting didepanmu seolah aku baik-baik saja. Tapi...apakah aku bisa? Kurasa perasaan ini sudah begitu dalam. Perasaanku bagaikan air lautan yang harus diisi air selama bertahun-tahun agar terisi penuh dengan sempurna. Mungkinkah aku berlebihan? Aku tak perduli, bagaimana pun, perasaan ini memang sangat sulit untuk kuhapuskan.

"ia mencari mu dibawah" aku mengerenyitkan dahiku, 'dia'? dia siapa?
"siapa kak?" tanyaku bingung pada kak David. Kak David terlihat menghela nafas pelan, membuatku semakin bingung.
"liam." aku membelakakan mataku, lalu menggeleng pada kak David.
"Temui saja, kalau dia macam-macam padamu akan ku hajar." aku terkekeh kecil dengan ucapan kak David. Lalu akhirnya aku mengangguk dan berlari kecil menuruni tangga.

Kulihat ia berdiri didepan pantry, mengobrol dengan ayahku, ia mengenakan baju berwarna coklat, warna favoritku. Aku tersenyum kecil, lalu berjalan menghampirinya dengan ragu.
"hai Princess" aku tersenyum pada ayahku. Lalu ia kemudian menengok padaku, sambil tersenyum manis, manis sekali, senyum yang sangat kurindukan, senyum yang dulunya milikku.
"ayah kekamar ya" aku melirik ayahku sinis, dan sedikit memohon agar ia tetap diberdiri disampingku, namun karena keisengannya, ayah malah benar-benar meninggalkan aku berdua dengannya.

"hei Na..." sapanya sambil mencubit pipiku gemas. Itu memang sudah kebiasannya, mencubit pipiku saat kami bertemu, dan setelahnya aku menonjok bahunya pelan.
"hei Liam..." balasku. Kemudian Liam menyodorkan beberapa buku tebal, atau lebih tepat novel. Novel-novelku yang beberapa hari lalu tertinggal ditaman. Aku menerima novel-novelku tersebut sambil tersenyum canggung. Liam tau novel-novel ini milikku, itu berarti beberapa hari lalu itu, ia melihatku bukan?

"umm... kau..."
"iya aku melihatmu, saat ingin kusapa kau malah sudah lari duluan hahaha" Liam tertawa, kemudian aku ikut tertawa, tawa paksa yang kedengarannya hambar.
"oh haha, jadi kau kesini hanya untuk membawakan novelku yang tertinggal." Liam mengangguk sambil tersenyum kecil, setelah itu terjadi keheningan diantara kami.

"sebenarnya aku juga ingin bertemu denganmu, aku rindu sekali padamu, aku juga rindu menyubiti pipimu. dan akhirnya aku bisa mencubit pipimu lagi" ucap Liam akhirnya setelah beberapa menit dalam keheningan. Nafasku tercekat. apa maksudnya?... lalu kemudian aku hanya tersenyum kecil, tidak tahu ingin berkata apa. Diam-diam juga, air mataku mulai mengintip dibalik pelupuk mataku. Aku tidak boleh menangis depannya...
"umm.. Liam, aku... kepalaku pusing, aku kekamarku ya terimakasih novelnya" ucapku lalu berlari cepat menuju kamarku.

"Najla, kau kenapa? Apa yang ia lakukan padamu? Haruskah kuhajar dia?" tanya kak David yang ternyata masih berada didalam kamarku. Aku menggeleng sambil menghapus air mataku yang baru menetes.
"Tidak, kak. Kau temui saja Liam, temani saja ia mengobrol, kumohon... aku baik-baik saja kok, kak" kak David kemudian mengangguk, mengecup keningku sekilas, lalu ia berjalan keluar kamarku. Dan aku mulai menangis deras.

Tidak seharusnya aku menangisinya, dan tidak seharusnya juga ia berkata ia merindukanku. Jujur, itu adalah kata-kata yang aku rindukan darinya, namun... ia mengucapkannya disaat yang sangat tidak tepat. Tidak tahukah ia bahwa aku sedang berjuang mati-matian melupakannya? Atau sebenarnya ia sengaja, agar aku semakin susah untuk melupakannya? Mengapa ini semua menjadi begitu sulit...

...
2 Februari 2012

Semakin lama, ia semakin jauh dariku. Tapi... hatiku? Sama sekali tidak semakin jauh, hatiku tetap pada pendiriannya, ia masih mengharapkannya, ia masih mencintainya. Sudah berkali-kali aku meyakini diriku dan hatiku, ia tak mungkin kembali, ia sudah bahagia dengan kekasihnya, ia bahkan sudah melupakanku, ia tak pernah lagi menyapaku, ia sudah sangat jauh, bukanlah Liam yang dulu, yang selalu menyapaku, membuatku tersenyum, tertawa, yang selalu mencubit pipiku, dan menggendongku saat aku malas untuk berjalan, bukan lagi...

"Najla, Liam mesra sekali ya dengan Danielle." ucap sahabatku Bella, kemudian aku hanya tersenyum kecil sambil menatap miris Liam dan kekasihnya Danielle yang sedang berjalan bergandengan tangan.
"Umm, Na... kau, umm, maaf" aku menengok ke Bella lalu menatapnya bingung.
"maaf?"
"Ya... kau masih..."
"Tidak, sudah tidak kok, tidak perlu minta maaf, lagipula mereka berdua memang terlihat mesra dan sangat cocok" aku berucap pelan lalu tersenyum paksa, kugigit bibir bawahku, mengurangi rasa sesak didadaku. Ya, mereka cocok, sangat cocok, ucapku dalam hati.
"cocok? siapa bilang cocok? Kau lebih cocok dengan Liam, Danielle memang cantik, tapi kau tidak kalah dari Danielle, bahkan kau lebih cantik darinya, Danielle bisa mendapatkan Liam hanya karena kelicikannya dan ya kau tahu....she's a..... you know lah. Bagaimana pun, seluruh siswa disekolah ini pasti akan lebih setuju bila Liam denganmu, kau dan Liam akan selalu menjadi pasangan yang paling serasi, walaupun kalian tidak seperti dulu lagi." aku tersenyum kecil pada Bella, lalu memeluknya erat. Ia memang sahabat terbaikku, Bella selalu bisa menenangkanku.

"Bagaimana kalau kita ke kelas saja? Sepertinya sebentar lagi bel masuk." Aku mengangguk pada Bella, lalu berjalan dengan malas menuju kelas.

Setengah jam sudah, kak David dan mobilnya tak kunjung terlihat. Aku sedaritadi berdiri didepan gerbang sekolah menunggu kak David menjemputku, namun sudah setengah jam lebih ia sama sekali belum menjemputku, bahkan sekolah saja sudah hampir sepi. Aku ingin naik taksi, namun uangku sepertinya tidak cukup, apalagi kalau ada macet.
Aku mendengus kesal, lalu berusaha menghubungi kak David, berkali-kali kutelfon kak David namun tak satupun yang ia jawab. Aku semakin kesal, lalu berkali-kali mendesah dan berdecak pelan. Aku benci menunggu, sungguh membosankan.

Kudengar suara motor, aku memejamkan mata mengira-ngira itu adalah motor Liam, lalu tak lama aku membuka mataku, dan benar saja motor sport Liam yang berwarna hijau sudah berada disampingku. Jantungku mulai berdetak tak karuan, namun seketika dadaku malah terasa sesak melihat seseorang yang diboncengnya. Jujur saja, aku merasa sedikit kecewa karena tadinya aku mengharapkan Liam akan mengantarku kerumah, tapi sayangnya aku lupa, ia punya seseorang yang lebih penting yang harus ia antar pulang dengan selamat. Aku meringis dalam hati, kemudian kulihat motor Liam mulai berjalan. Kemudian aku semakin terhenyak, apa maksudnya tadi? Berhenti disampingku namun sama sekali tidak menyapaku atau menanyakan apapun. Apa ia hanya ingin pamer dan membuat ku cemburu?
Aku menggigit bibir bawahku, lalu menatap kebawah, menatap sepatuku, berharap aku bisa menemukan ketenangan pada sepatu merahku tersebut. Bodoh memang, sama sekali tidak masuk akal. Tidak lama, kudengar suara klakson mobil, dan benar saja, kakakku yang bodoh baru datang. Dengan cepat aku masuk ke mobilnya, lalu mulai menangis. Najla.... Kau sungguh cengeng.

"Najla? Mengapa kau tiba-tiba menangis, huh?" aku menengok ke kak David dengan mataku yang penuh dengan air mata. Lalu kutonjok dadanya berkali-kali, kak David yang tadinya baru ingin menginjak gasnya, seketika menghentikan niatnya tersebut.
"Mengapa kau lama sekali menjemputku bodoh!"
"Aku..."
"Kau lama sekali! lain kali kau harus menjemputku lebih cepat! Kau bodoh!" Kemudian kak David menepis tanganku halus, lalu memelukku, ia sungguh kakak yang baik untukku.
"Okay Barbie, maaf lain kali akan ku jemput kau lebih cepat, sekarang aku akan menyupir, kau berhenti menangis, lalu ceritakan semuanya dirumah, oke?"

Sesampainya dirumah, aku tidak menceritakan apapun tentang Liam pada kak David, aku hanya memberi alasan bahwa aku takut menunggu apalagi sekolah sudah hampir sepi. Untungnya ia percaya-percaya saja, walau kulihat dimatanya ia sama sekali tidak percaya. Dia sungguh kakakku yang terbaik..

...
13 Februari 2012

"Ku dengar Liam dan Danielle sedang bertengkar" aku terkekeh kecil dengan ucapan Bella. Lalu? Apa urusanku bila mereka bertengkar? Pikirku.
"Mengapa kau malah tertawa? Mengapa kau tidak kaget, setelah itu kau boleh tertawa."
"Kaget? Untuk apa?"
"Ya, karena bisa saja setelah bertengkar mereka putus. Dan itu kesempatan yang bagus untukmu dan Liam agar bisa seperti dulu lagi. Iya bukan?" Aku semakin terkekeh geli, membuat Bella menatapku penuh bingung.
"Kau daritadi hanya tertawa saja, bukankah biasanya kau menangisi lelaki itu?"
"Ah tidak, aku... aku fikir tidak penting menangisinya, iya bukan?" Bella menengangguk mengerti, lalu tiba-tiba memeluk ke erat, membuat nafasku sesak.

"Akhirnya Najla kembali seperti dulu! Ah, bagaimana pulang sekolah nanti kita shopping, besok malam ada prom bukan?"
"SHOPPING?!? DENGAN SENANG HATI!" ucapku semangat, i love shopping more than i love him!
"Najla aku rindu sekali kau yang seperti ini"
"Ugh please, aku sudah lelah terus berada dalam keterpurukan hahahaha" kemudian aku dan Bella tertawa geli dikantin, kami sadar siswa siswi yang lain sedang memperhatikan kami, namun kami tidak perduli.

...
14 Februari 2012

Happy Valentine! Hari ini hari Selasa, namun tidak ada sekolah hari ini, karena nanti malam akan ada prom. Prom special hari Valentine. Idk who's my Valentine, aku juga tidak tahu siapa pasanganku ke prom nanti..
Kulirik jam dindingku, jarum pendek menunjuk angka 3, okay, 3 siang, aku bukan tukang tidur, hanya saja aku baru tidur pukul 6 pagi tadi, aku sibuk bermain tumblrku, tumblr sedikit membuatku gila... Kemudian aku bergegas menuju kamar mandi, pukul 7 sebentar lagi, sedangkan aku butuh waktu yang sangat lama untuk berdandan. Ya biasa, wanita.

1 jam sudah aku didalam kamar mandi. Lalu aku mulai menyiapkan gaun dan sepatuku. Gaun pendek tanpa lengan berwarna hijau yang indah, seperti apa indahnya? umm, aku tidak bisa mendekripsikannya. Lalu higheels berwarna putih dengan blink yang mempercantiknya untuk menghiasi kakikku.

Kuputar tubuhku didepan cermin. Aku sudah siap dengan rambutku yang ku curly dibagian bawahnya, dan juga dengan make up tipis. Kuraih tas tanganku, setelah itu aku menuju lantai bawah rumahku.

"aww, Najla my girl, kau cantik sekali" puji ibuku, membuat aku tersenyum malu.
"Liam pasti akan menyesal menyia-nyiakanmu" aku melirik kesal ayahku. Haruskah menyebut nama Liam, ayah? geramku dalam hati.
"Setuju, Liam pasti akan meleleh melihatmu." aku mendengus kesal kepada kak David. Kemudian ayah, ibu, dan kak David malah mentertawaiku. Ah sungguh, mereka bagaikan penghancur moodku. Tak bisakah mereka membantuku melupakannya, hanya dengan berhenti menyebutkan namanya setiap saat?

"Sudahlah, maafkan ayah dan kakakmu. Antar adikmu David." kak David mencium pipi ibuku sekilas, lalu merangkulku, kemudian kami berjalan menuju mobilnya.

Aku turun dari mobil, kemudian mataku menengok ke kanan-kiri mencari Bella, atau siapa saja yang ku kenal. Dan kemudian mataku mengangkan sosok lelaki berambut emas, yang kebetulan juga sedang melihatku, bahkan berjalan ke arahku.

"Kau cantik sekali malam ini, as usual" ucap lelaki tersebut, ia adalah kapten football disekolahku, dan ia sangatlah tampan, bahkan ia adalah mantan pacarku.
"Haha terimakasih, kau juga terlihat sangat tampan, as usual" kemudian aku dan Dylan sama-sama tersenyum malu.
"Umm... kau sudah dapat pasangan?" tanyanya sambil menggaruk tengkuknya dengan lagak salting. Aku terkekeh kecil, mengerti maksudnya.
"Kebetulan belum, dan kau tentu boleh menjadi pasanganku malam ini." balasku to the point.
"Uh? Kau yakin sekali aku juga belum punya pasangan?" tanyanya lagi dengan tatapan serius. Membuat perlahan senyumku mengendur, malah berubah menjadi senyum aneh.
"Umm... hehe" aku tertawa garing.
"Hahahahahahahahaha ayuk masuk, you're my princess for tonight" aku menatapnya geram kemudian menonjok lengannya yang berotot, lalu aku menggandeng lengannya tersebut dan berjalan beriringan memasuki gedung tempat prom berlangsung.

Entah perasaanku saja, atau bagaimana, saat aku dan Dylan masuk, orang-orang langsung menatap kami dengan berbagai macam tatapan. Seperti "apakah mereka berdua kembali bersama?" "wah mereka sangat cocok." "bagaimana mereka bisa bergandengan tangan mesra seperti itu?". Aku dan Dylan hanya tertawa kecil, tidak begitu mementingkan tatapan-tatapan aneh tersebut. Aku pun tidak perduli dengan para gadis yang menggilai Dylan sedang menatapiku sinis, Dylan juga tidak perduli dengan para penggemarku. Um, kami tidak sombong, hanya saja.....um, ah tak tahu.

Kemudian mataku tak sengaja menangkap mata Liam. Tatapannya begitu miris, entah apa maksud tatapannya tersebut, seperti terpancar kesedihan pada tatapannya, membuat aku juga merasakan sedih. Kalau aku boleh jujur, tawa dan senyumku akhir-akhir ini adalah palsu, aku masih mencintainya, aku masih merindukannya, namun aku tak ingin terus dalam keterpurukan..
Aku membuang mukaku, lalu kembali melingkarkan tanganku dilengan Dylan, lalu lanjut menyapa teman-temanku yang lainnya bersama Dylan.

"Wow kalian berdua sedari dulu memang sangat cocok!" ucap suara cempreng yang tiba-tiba muncul dihadapanku dan Dylan. Aku mengerinyitkan dahi, lalu tertawa garing.
"Tunggu sebentar, aku memanggil kekasihku dulu" ucap suara cempreng itu lagi. Aku mengulum bibirku, dan mendesah pelan, haruskah ia memanggil kekasihnya? Haruskah? lirihku dalam hati. Kemudian, Danielle, sang pemilik cempreng tersebut kembali bersama kekasihnya. Ah, bukannya mereka sedang bertengkar, huh? Umm, mungkin sudah berbaikan.
Aku terus-terusan berdesah pelan, bahkan sedaritadi aku hanya menunduk, aku tidak berani menatapnya sedekat ini.

"Kalian berdua, sangat...um cocok." ucap suara berat kekasih Danielle tersebut. Aku semakin meeratkan pelukanku pada lengan Dylan.
"Tentu saja kami pasti akan menjadi Raja dan Ratu untuk prom malam ini" canda Dylan yang sepertinya berusaha memecahkan kecanggungan antara aku, dan.... Liam.
"Tidak, aku dan Liam pasti yang akan menjadi Raja dan Ratu, benar kan sayang?" canda Danielle. Kemudian Liam, dan Dylan tertawa, aku masih diam saja, menunduk.

"Kau cantik sekali Na malam ini, ya seperti biasa kau selalu terlihat cantik." Aku semakin terdiam, lalu keberanikan untuk mengangkat kepalaku, memastikan apa benar ia yang berkata seperti itu....
Kemudian kulihatnya sedang menatapku sambil tersenyum manis, lalu kutatap Danielle, ia sedang menatapku sinis, kemudian aku kembali menunduk dan mendesah pelan. Aku menarik-narik lengan Dylan, lalu menatapnya dengan tatapan memohon, dan untungnya ia mengerti.

"Kau sepertinya masih sangat mencintainya ya.." ucap Dylan sambil menyodorkan minuman kepadaku. Aku hanya menatapnya miris dan tersenyum miris.
"Bahkan sepertinya dulu kau tidak begitu mencintaiku.." tambahnya lagi. Aku semakin menatapnya miris dan menyesal. Ya, dulu memang aku sering sekali mencueki Dylan, aku tidak benar-benar sayang padanya dulu.
"Maaf" ucapku pelan sambil menghela nafas.
"Tidak apa-apa. Yang penting aku senang aku bisa membuatmu tersenyum." kemudian aku tersenyum lebar, senyum yang sangat tulus.
"Kau tidak berubah, tetap perhatian padaku." ucapku sambil menonjok lengannya pelan.
"Hahaha tentu. Umm, wanna dance?" aku menatap Dylan gugup. Ugh sungguh, aku tidak bisa berdansa.
"Dyl..." ucapku sambil memutar mata. Kemudian ia terkekeh, Dylan memang tahu aku tidak bisa berdansa.
"Ayolah" pintanya memohon, kemudian akhirnya aku mengangguk.

Aku menangis dalam hati, kulihat ia berdansa dengan kekasihnya. Berdansa dengan senyum yang mengembang dipipi keduanya. Mengapa mereka berdua begitu mesra? Mengapa mereka berdua begitu cocok? Kutatap sekali lagi mereka berdua. Sial, mataku bertemu dengannya. Dengan cepat kubuang mukaku, lalu kusenderkan kepalaku pada dada bidang Dylan. Ah... dada Dylan sangat nyaman senyaman dadanya. Oh tidak Najla, lupakanlah dia...

"You okay?" tanya Dylan padaku yang baru saja menyenderkan kepalaku didadanya.
"Uh? Tentu saja, tidak apa-apa kan aku bersender didadamu?" tanyaku balik dengan kikuk.
"Tentu boleh hahaha"

Kupejamkan mataku, kepalaku masih menyender didada Dylan, kedua tanganku kulingkarkan dikedua lehernya. Aku mati-matian menahan air mataku. Mengapa aku begitu cengeng... Dan mengapa ini semua begitu sulit dan menyakitkan...
Kemudian aku merasa Dylan menghentikan dansanya, lalu berbicara pada seseorang yang sepertinya bukan aku. Lalu aku mengangkat kepalaku, dan aku cukup kaget melihat siapa yang berbicara dengan Dylan. Dylan lalu melepaskan tangannya dari pinggulku dan berjalan entah kemana. Aku mengkerutkan dahiku, kemudian tiba-tiba Liam berdiri tepat dihadapanku. Aku merasa sangat canggung, dan kuputuskan untuk menyusul Dylan, namun tiba-tiba tanganku ditahan oleh Liam.

"Berdansalah denganku" pinta Liam. Aku terdiam sejenak. Apakah Danielle akan marah padaku bila aku berdansa dengan Liam? tanyaku dalam hati.
"Come on" ajak Liam lagi. Aku masih terdiam. Sudahlah Na... kapan lagi kau berdansa dengannya? Kemudian aku mengangguk sambil tersenyum malu. Ah... biarkan aku berdansa dengannya malam ini saja, Tuhan.

Keheningan terjadi selama dansa ku dengan Liam. Aku tidak menatap pada mukanya, aku hanya menatap kesamping, atau kebawah. Entahlah... itu akan menyakitkanku bila aku menatap wajahnya yang sejujurnya kurindukan untuk kulihat dari jarak yang dekat seperti sekarang ini.

"Mengapa kau hanya menunduk?" tanya Liam tiba-tiba. Membuat jantungku yang sudah tak terkontrol semakin berdetak tak karuan. Kemudian akhirnya kuberanikan mataku menatap wajahnya, ia tersenyum padaku. Senyumnya memang sangatlah indah bagiku...

"Aku tidak suka melihatmu menggenggam Dylan seperti tadi" aku terdiam, lalu menatapnya bingung. Apa maksudnya?
"Aku tidak suka kau terlihat begitu mesra dengannya."
"Aku tidak suka kau menyenderkan kepalamu tadi didadanya."
"Aku tidak suka melihatmu berdansa dengannya."
"Yang terpenting, aku tidak suka melihatmu dengan orang lain."
Deg.. Aku semakin terdiam. Apa maksud kalimat-kalimatnya barusan... Lalu kutatap ia dengan sinis, kemudian kudorong dadanya, dan berlari menjauh darinya. Tidak suka? Apakah ia cemburu? Atau apakah maksudnya adalah untuk mempersulitku untuk melupakannya?!

Aku berlari keluar gedung. Aku menangis... Ya, aku menangis. Sungguh aku benci harus menjadi wanita cengeng, aku tidak ingin menjadi wanita cengeng seperti ini...
Angin malam yang begitu dingin menusuk tulangku. Sungguh dingin diluar sini, tapi aku juga enggan masuk kembali kedalam. Aku tidak mau melihatnya, aku masih tidak mengerti dengan ucapan-ucapannya yang begitu menyakitkan untuk ku mengerti.

Kemudian, kurasakan badanku terasa hangat. Ternyata Dylan membiarkan jasnya menutupi bahuku yang terbuka. Aku tersenyum, lalu memeluknya masih sambil terisak. Bisakah aku berhenti mencintai Liam, agar aku bisa mencintai Dylan... lirihku dalam hati.

"Kumohon antar aku pulang"

...

-Flashback-
"Tahukah mengapa kau begitu indah dimataku?" tanyanya sambil menatap mataku lekat-lekat lalu menyisipkan rambutku ke belakang kupingku. Kemudian aku tersenyum dan terkekeh geli.
"Umm, mungkin karena memang aku begitu mempesona?" balasku bercanda.
"Ya benar, itu salah satunya. Lainnya adalah, karena.... karena kau begitu cantik manis, dan kau sungguh gadis periang dimataku, aku selalu memperhatikanmu sejak dulu, tiada hari tanpa senyum dan tawa lepas dari bibirmu. Aku sangat suka dengan senyumanmu, senyum mu sangat indah, tawa mu, begitu menggelitik perutku. Berjanjilah, tetaplah jadi gadisku yang periang. Aku sangat menyayangimu, kapanpun, bagaimana pun, apapun yang terjadi, hanya kau gadis yang akan selalu ku cinta."
-Flashback off-

21 Februari 2012

Kalau bisa, aku juga tidak ingin terus seperti ini. Aku juga lelah sebenarnya mengharapkan mu yang sudah jelas-jelas tidak pasti. Ya, aku tahu, sudah ku bilang bukan, aku tahu aku bodoh, amat bodoh. Tapi biarkanlah aku seperti ini, toh setidaknya cepat atau lambat aku akan benar-benar terlepas dari keterpurukan ini. Aku juga lelah menangisinya mulu, walau sekarang memang aku sudah tidak begitu sering menangisinya, aku mulai terbiasa dengan rasa sakit ini. Dan.. ohiya, aku harus ingat dengan kata-katanya dan juga janjiku, aku harus terus menjadi gadis yang periang. Aku.... aku harus bisa cepat menghapus rasa ini. Harus.
Tapi.... apa yang terjadi nantinya bila aku sudah berhenti mencintainya, namun ia kembali kepadaku? Apakah ucapannya dulu itu benar tentang 'akan selalu mencintaiku, kapan pun, dan bagaimana pun?'. Tuhan... ini semua sangatlah mempersulitku..

"Kau sudah melihat Liam hari ini?" Ah, haruskah setiap hari semua orang menanyakan Liam kepadaku?
"Belum Bel, memang kenapa?" tanyaku malas.
"Tidak apa-apa, tapi ku dengar, ia sedang sakit." apa? Liam sakit? Ah, sudahlah bukan urusanku.

...
25 Februari 2012

5 hari sudah. 5 hari ia tak masuk sekolah. Kemanakah Liam? Sebenarnya ia sakit apa? Apakah sakitnya parah? Haruskah aku menjenguknya? Aku rindu padanya, sangat merindukannya.

Aku duduk sendirian dikantin, Bella sedang ke perpustakaan, meminjam buku, entahlah buku apa. Aku mendesah pelan sambil mengaduk-aduk orange juice ku, lalu tiba-tiba seseorang menepuk pundakku, membuatku menjerit cukup kencang.

"OMG! wtf you, Dylan" geramku lalu meliriknya sinis. Kemudian ia malah tertawa, membuatku semakin geram.
"Apa yang lucu, huh?" ucapku lagi, kesal.
"hahahahaha tidak ada yang lucu. Mengapa kau diam saja sendirian? Umm, kau baik-baik saja?" aku memutar mata malas. Tentu saja aku baik-baik saja, memang ada yang aneh dariku? ucapku dalam hati.
"Ya aku baik-baik saja."
"Aku tahu, kau pasti memikirkan Liam kan?" tanya Dylan tak bersemangat. Kemudian aku menghela nafas, ikut tak bersemangat.
"Yea, i guess" jawabku malas. Aku sungguh sedang malas berbicara dengan siapapun. Lalu kemudian untungnya bel berbunyi, dan kemudian aku langsung berlari duluan kekelas, meninggalkan Dylan yang masih duduk dikantin.

Pulang sekolah, entah apa yang membuatku membawa mobilku kedepan rumah Liam. Kebetulan, hari ini aku membawa mobil sendiri, karena kakakku hari ini ada acara dengan teman-temannya.
Aku menginjakkan rem mobilku, dan dengan sedikit ragu aku berjalan kedepan pintu rumahnya.

Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Apakah ini sungguhan? Ataukah hanya mimpi? Hatiku terasa teriris-iris melihatnya, ini....sungguh menyakitkan. Ya Tuhan, bisakah kau membangunkanku dari mimpi buruk ini?
Aku meneteskan air mataku. Aku berjalan pelan dengan ragu... Lalu kuraih tangannya, kuusap rambut coklatnya...

"Liam..." ucapku terisak. Aku tidak kuat melihatnya, mukanya begitu pecat, ia terbaring lemah diranjangnya. Bahkan... tubuhnya penuh dengan peralatan-peralatan rumah sakit. Ya Tuhan... bisa jelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada dirinya?

"Keadaan Liam semakin lama semakin melemah.." ucap suara lembut dibelakangku , yang ternyata adalah ibunya Liam. Lalu aku menatap ibu Liam dengan penuh tanya.
"Sebenarnya ia sakit apa, bibi?" tanyaku lirih.
"Yang jelas, Liam sakit parah Na, ia tidak mau orang-orang terdekatnya dan yang ia sayang tahu, ia menyebunyikan semuanya dari teman-teman dekatnya disekolah, dan juga kamu, Na.."

Aku hanya terdiam. Kutatap wajahnya yang pucat. Ku genggam erat tangannya yang dingin. Liam... Separah apakah sakitmu? Akankah suatu hari kau meninggalkanku karena penyakitmu? Kumohon Liam jangan tinggalkan aku... Aku tak perduli walaupun kau bukan milikku, yang jelas aku tak mau kau pergi dari dunia ini. Aku mencintaimu Liam...

...
2 Maret 2012

Akhirnya ia kembali kesekolah. Senyum kecil terlukis dibibirku saat aku sadar ia sedang bermain basket bersama teman-temannya dilapangan. Ia bahkan sama sekali tak terlihat seperti orang yang sakit, hanya saja mukanya sedikit pucat, namun tidak begitu kentara.

Kemudian, ia mengakhiri permainannnya, dan berjalan kearahku. Ah, benarkah ke arahku? Kulihat ke kanan dan ke kiri, dan umm, bukan ke arahku melainkan aku duduk ditempatnya meletakkan tas dan air mineralnya.

Ia duduk tepat disampingku, meneguk minumannya kemudian mengelap keringatnya. Ia sama sekali tidak menyapaku, bahkan sepertinya ia tidak sadar ada aku disebelahnya. Aku sedikit berdesah pelan, lalu aku melangkah pelan menjauhinya.

"Tunggu!" tiba-tiba suaranya menghentikanku. Aku menghentikan langkahku. Lalu dengan ragu dan gugup kuputar badanku.
"Aku ingin berbicara denganmu" ucapnya sambil menatap kedepan. Kemudian, aku melangkah ragu menuju tempatnya duduk.

"hhh" ia menghela nafas, membuatku ikut menghela nafas panjang. Ku hirup oksigen sebanyak-banyaknya, hhh aku benar-benar butuh oksigen. Kemudian keheningan menyelimuti kami. Ia sama sekali tidak memulai percakapan, begitupun aku, aku tak tahu apa yang ingin kubicarakan, karena bukankah ia yang ingin berbicara kepadaku?

"Jadi..." ucapnya akhirnya.
"Kau sudah tau bukan, aku...aku sakit, aku penyakitan." ucapnya tenang. Kemudian kuberanikan diri menatapnya yang sedang menatap kedepan. Ya Tuhan, aku rindu sekali menatapnya seperti ini... lirihku dalam hati. Kemudian aku mengangguk pelan.
"Aku bahkan tak tahu kapan penyakit ini aku membunuhku, dan membuatku meninggalkan dunia ini, juga meninggalkan kau...." kali ini ia berucap lirih, kemudian ia memutar kepalanya, dan sekarang ia sedang menatapku. Aku membalas tatapannya.... namun ini begitu menyakitkan, karena kulihat matanya penuh dengan kesedihan dan kepedihan.

"Kau.... tidak akan meninggalkan dunia ini." ucapku dengan nada yang bergetar. Ia menarik nafasnya begitu berat, kemudian aku mulai menunduk, tak berani lagi menatap wajahnya.
"Kuharap begitu. Tapi, cepat akan lambat aku akan, Na..." ia berucap semakin lirih. Membuat hatiku begitu sakit mendengarnya. Kemudian, air mata sialanku mulai mengalir, aku menangis dihadapannya...
"Na... kau menangis?" tanyanya sambil mengangkat daguku. Sekarang mataku bertatapan dengan mata indahnya yang meredup. Aku menepis tangannya halus dari daguku, kemudian ku hapus air mataku.
"Aku.... harus kembali ke kelas" ucapku lalu mulai membalikkan badanku. Namun tanganku ditahannya, membuatku lagi-lagi harus menengok kepadanya.
"Pulang sekolah kau ikut denganku, kerumahku, jangan menolak. Kumohon..." aku hanya terdiam, lalu dengan cepat aku berlari meninggalkannya.

Disinilah aku terduduk, di sofa biru dikamarnya. Aku baru sadar, kamarnya bau obat-obatan, padahal tahun lalu, kamarnya sama sekali tidak tercium bau obat-obatan, hanya ada bau wangi parfum maskulinnya. Jadi... sejak kapankah sebenarnya ia mengidap penyakit parah itu?

"Na, apa kau sudah tau satu hal?" tanyanya yang sedang terduduk dikasurnya. Kemudian aku menggeleng bingung, satu hal? apa itu?
"Kau ingatkah dengan perkataanku?" tanyanya lagi. Dan lagi-lagi aku menggeleng, banyak hal dan banyak kata-kata yang ia ucapkan kepadaku.
"Tak ingatkah kau tentang...." gantungnya. Aku menatapnya penuh penasaran.
"Tentang aku akan mencintaimu, kapanpun, bagaimana pun, dan apapun yang terjadi, kau akan selalu menjadi gadis yang kucinta..." aku terdiam. Aku ingat, ingat sekali. Dan sekarang, aku pun tak percaya ia masih mengingat ucapannya sendiri tersebut.
"Dan satu hal yang harus kau tahu..... aku serius dengan ucapanku tersebut." DEG. Aku tak percaya dengan ucapannya. Aku terpaku, menatapnya dengan tatapan tak percaya. Ia mencintaiku? Lalu mengapa ia memutuskan hubungan kami? tanyaku dalam hati.

"Najla... maafkan aku" ucapnya lagi padaku yang masih tak bergeming. Aku hanya menunduk lalu menggeleng pelan.
"Alasanku menyudahi hubungan kita dulu, karena.... karena penyakitku" kemudian ku angkat kepalaku, aku menatapnya penuh tanya. Apa maksudnya ia menjadikan penyakitnya sebagai alasan?

"Benarkah? Mengapa kau menjadikan penyakitmu sebagai alasan?" tanyaku lirih, sangat lirih. Kemudian ia menghela nafas, lalu menatapku penuh menyesal.
"Na, maafkan aku. Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin melakukan itu, tapi aku terpaksa, aku harus menyudahi hubungan kita, aku tidak mau kau aku tersakiti dan menangis karena aku akan meninggalkanmu dan dunia ini nantinya. Lalu Danielle, sebenarnya aku tak menyayanginya, aku hanya ingin membuat kau cemburu ketika melihatku dan Danielle, aku hanya ingin membuat kau membenciku, lalu melupakanku. Karena kukira, dengan cara membenciku dan melupakanku, kau tidak akan menangis nantinya saat aku pergi meninggalkan dunia ini, kau tak akan merasakan sakit karena kehilanganku. Aku tidak ingin kau menangisi kepergianku nantinya."
Aku terdiam, semakin terpaku. Air mata mulai menangis deras dari mataku, kemudian ia berdiri dan berjalan kearahku. Ia mendekatiku, lalu memelukku. Aku tak membalas pelukannya, namun aku menangis semakin deras. Lalu kemudian aku melepas kasar pelukannya, dan berlari keluar kamarnya.

...
3 Maret 2012

Hoaam.. Aku baru terbangun dari tidurku yang tak begitu lelap. Kulirik jam dindingku, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 10. Lalu kuraih handphoneku, banyak sekali misscall dari nomer ibunya Liam. Jantungku berdetak kencang, adakah hal buruk yang terjadi? tanyaku dalam hati. Lalu tak berapa lama, iphoneku kembali berdering, dan dengan cepat kuangkat.

"Najla? Bisakah kau kerumah sakit sekarang?" ucap suara disebrang telfon dengan nada yang begitu panik dan resah. Dan dengan tak kalah panik, aku langsung berlari kebawah, mencari kakakku.

"Kak David! bangun! kumohon bangun!" ucapku mengguncangkan tubuhnya yang masih terlelap dikasur.
"Ada apa, kau menggangguku saja" ucap kak David masih memejamkan matanya.
"Kak, kumohon antar aku kerumah sakit sekarang"
"Kak David!"
"Kak David kumohon antar aku kerumah sakit" Suaraku mulai bergetar, dan aku mulai lelah membangunkan kakakku tersebut. Tapi, tak berapa lama kak David terbangun dan cukup kaget melihatku yang memelas. Dengan cepat ia meraih kunci mobilnya, kemudian menarik tanganku.

Aku berlari tergesa-gesa dilorong rumah sakit. Sedangkan kak David masih memakirkan mobilnya. Aku masih berlari, bahkan aku masih mengenakan piyama pinkku yang kebesaran, namun aku tidak perduli, lalu kulihat kedua orangtua Liam sedang berpelukkan satu sama lain, kemudian aku berlari semakin cepat menghampiri mereka.

"Apa yang terjadi dengan Liam?" tanyaku pada kedua orangtua Liam dengan nafas yang tersengal-sengal. Kemudian ibu Liam hanya menunjuk kebelakang badanku. Lalu aku memutar badanku, dan seketika air mata mengalir deras dari mataku.

Dari balik kaca transparan, kulihat Liam yang sedang ditangani dokter dan para suster terus melawan. Ia terlihat sangat kesakitan, sedangkan dokter berusaha menyuntikkan sesuatu, mungkin penenang agar Liam bisa diam. Aku terus menangis melihatnya, seolah aku bisa merasakan apa yang ia rasakan. Kemudian kulihat Liam mulai tenang, dokter dan para susterpun mulai keluar. Dokter mempersilahkan satu orang saja untuk masuk ke ruang rawat Liam, dan kedua orangtua Liam mempersilahkan aku masuk karena mereka bilang dari semalam Liam menyebutkan namaku.

Aku masuk ke dalam ruangan tersebut. Aku berjalan pelan ke arahnya yang sedang terkulai lemas dikasur, lalu aku duduk disebuah bangku disamping kasurnya. Ku genggam erat tangannya yang dingin, kutelusuri wajah tampannya yang pucat. Kemudian ku hapus air mataku, aku tak boleh menangis dihadapannya. Aku harus tersenyum, aku harus memberikkan kekuatan padanya, aku tak boleh menangis, tak boleh.

Kemudian aku tersenyum, kuusap punggung tangannya, dan kuusap pipinya. Tiba-tiba ia membuka matanya, dan langsung tersenyum kepadaku.

"Apakah aku sudah berada disurga?" ucapnya masih sambil tersenyum. Aku hanya menggegeleng dan tetap tersenyum, padahal, aku sedang menahan susah-susah air mataku.
"Senyummu indah sekali, Najla" ia mengelus-elus pipiku pelan. Aku memejamkan mataku, memohon dalam hati, agar Tuhan tak mengambilnya.
"Najla, kau sudah memaafkanku?" tanyanya dengan ragu. Aku tersenyum lebar lalu mengangguk. Kemudian dengan susah payah ia berusaha untuk duduk, melihat itu, aku langsung membantunya untuk duduk.

"Na, peluklah aku." ucapnya semakin melemah. Lalu kemudian aku memeluknya, dan menyenderkan kepalaku didadanya. Aku rindu sekali seperti ini, kumohon Tuhan, biarkan ia hidup lebih lama...
"Na, terimakasih sudah memaafkanku dan terimakasih sudah tersenyum untukku, kau tahu, senyummu mengurangi rasa sakitku."
"Benarkah? Kalau begitu aku rela tersenyum kepadamu setiap waktu, bahkan saat aku marah padamu sekalipun, asalkan kau berjanji tidak akan meninggalkanku dan dunia ini." ucapku sambil melepaskan pelukanku dan menatap matanya. Ia menghela nafas, lalu menatapku penuh kepedihan, dan dengan cepat kupeluk ia lagi dan kembali menyenderkan kepalaku didadanya.
"Aku tidak bisa berjanji" bisiknya lirih. Lalu aku hanya diam, memejamkan mataku, membiarkan aku merasakan nyaman dan hangat rangkulannya, membiarkan ia mengelus halus rambutku.

Semakin lama aku merasakan ia semakin lemah mengelus rambutku, ia bahkan tak begitu erat lagi memelukku. Namun aku hanya mengabaikannya, mungkin ia tidur dan butuh istirahat karena rasa sakitnya. Lalu, baru saja aku ingin kembali memejamkan mataku, bunyi mengerikan yang tak akan pernah mau kudengar, berbunyi nyaring, menyakiti kupingku dan juga hatiku.....

...
4 Maret 2012

Tak ada lagi dirinya. Tak ada lagi ia yang selalu mencubit pipiku. Tak ada lagi ia yang selalu menggendongku saat aku malas berjalan. Tak ada lagi ia yang akan membelikan aku ice cream dan balon saat aku marah padanya. Tak ada lagi ia yang akan melakukan hal konyol demi membuatku tertawa geli. Tak ada lagi suaranya Tak ada lagi pelukan hangatnya. Tak ada lagi tatapan matanya yang begitu menenangkan. Tak ada lagi tawanya dan senyumnya yang selalu membuat jantungku berdetak tak karuan. Tak ada lagi alunan aneh yang keluar dari bibirnya. Tak ada lagi yang akan menggendongku dan memutarku layaknya boneka. TAK ADA LAGI DIA DALAM HARI-HARIKU, TAK ADA!
Sekarang ia hanya kenangan, kenangan indah yang begitu menyakitkan. Semuanya tentangnya hanyalah kenangan, kenangan indah tetapi menyakitkan. Aku tak akan lagi bisa merasakan pelukannya, aku tak akan bisa lagi mendengar suaranya, tak akan bisa lagi....

Aku menatap tempat perisirahatan terakhirnya dengan nanar, mataku sudah bengkak dan merah karena menangis sejak kemarin. Ia meninggal dalam pelukanku, ia meninggal saat memelukku. Aku beruntung ada didekatnya saat itu, walau keberuntungan itu cukup menyakitkan hatiku.

"Najla, dikotak ini ada beberapa kertas yang sepertinya surat untukmu yang ditulis oleh Liam sebelum ia meninggal." ibu Liam menyodorkanku sebuah kotak berwarna coklat yang aku terima dengan tangannya yang bergetar. Kemudian kupeluk ibunya Liam sambil terisak.
"Terimakasih kemarin sudah menelfonku, bibi"

Aku merebahkan tubuhku dikasurku, air mataku mulai mengering. Lalu aku teringat dengan kotak berwarna coklat tadi yang buru-buru kubuka.
Kubuka kotak tersebut, dan terdapat banyak sekali foto-fotoku yang sepertinya ia ambil diam-diam. Kemudian kuraih satu foto yang menurutku hasilnya paling bagus, dan ternyata dibalik foto tersebut ada tulisan "Senyum miliknya adalah senyum terindah. Senyum yang selalu mewarnai hariku, senyum yang membuatku lupa rasa sakit yang menjalar pada tubuhku."
Kemudian air mataku kembali menetes, dan kutemukan 2 kertas yang berisi tulisan tangannya.

Kertas pertama berisikan:
Najla.. Nama yang sangat bagus dan juga lucu, selucu orangnya. Gadis itu sudah membuatku gila karena sifatnya yang sungguh periang dan juga menggemaskan. Wajahnya yang manis, rambut panjang coklatnya, mata hijaunya, bibir pink, semuanya membuat aku gila. Aku sudah mengaguminya cukup lama, dan aku tak percaya bahwa akhirnya ia akan menjadi milikku. Namun, sebulan lalu, aku baru mengetahui aku mengidap penyakit parah, yang namanya begitu aneh dan tak ingin ku hafalkan. Penyakit itu membuat tubuhku terasa sakit bahkan kadang aku sulit bernafas dan lemah untuk melakukan hal-hal berat karena penyakitku tersebut. Aku menyembunyikan penyakitku ini pada gadisku tersebut, aku tak ingin ia khawatir padaku. Aku hanya ingin ia tersenyum dan tertawa untukku, senyum dan tawanya sungguh bagaikan obat untukku. Aku sungguh mencintainya, namun sepertinya penyakitku ini memaksaku untuk harus menyakitinya...

aku mulai menangis deras, lalu dibacanya kertas lainnya yang berisikan:
Na, kau benar memaafkanku bukan? Kau tahu kan, aku menyayangimu, aku sangat mencintaimu, sampai kapanpun, dan bagaimanapun. Bahkan sampai akhir hidupku, kau tetaplah gadis satu-satunya yang kucinta bukan?
Sekali lagi, aku minta maaf karena dulu aku memilih menyudahi hubungan kita, aku pun tak mau begitu sebenarnya, aku hanya tak mau kau menangisi kepergianku nantinya. Tapi ternyata aku salah besar, aku malah membuatmu menangis lebih parah. Maaf aku sering memamerkan kemesraan palsuku dengan Danielle, maaf. Aku bahkan menyesalinya sendiri, memutusimu sama dengan menyiksa diriku sendiri. Aku benar-benar cemburu melihat kedekatanmu dengan Dylan, dan aku benar-benar tersakiti melihatmu menyenderkan kepalamu didadanya dan juga disaat kau mendorongku kasar di malam prom tersebut.
Kau tahu, kemarin itu mendadak sakit menjalar diseluruh tubuhku saat kau tiba-tiba menangis dan pergi dari kamar dan rumahku. Tepat saat kau meninggalkanku kemarin, tubuhku tak bisa digerakkan. Kau lah kekuatanku, tanpamu aku akan sangat melemah.
Najla, aku ingin kau tetap tersenyum untukku. Kumohon jangan pernah kau hapuskan senyum itu dari bibirmu, aku berjanji aku akan selalu berada didekatmu, walau tak terlihat olehmu, asalkan kau terus tersenyum.
Maafkan aku aku tak bisa lagi memelukmu, aku tak bisa lagi melakukan hal-hal konyol untukmu, aku tak bisa lagi menggendongmu, aku juga tak bisa lagi mencubiti pipimu, aku tak bisa lagi membawakanmu balon ketika kau sakit, tak bisa lagi membelikanmu ice cream ketika mood mu sedang memburuk, maafkan aku. Aku tak percaya harus meninggalkanmu hanya karena penyakit sialan ini. Maafkan aku, kumohon, janganlah kau terus menangisi kepergianku, tak ada gunanya bukan? Yang terpenting kau harus selalu menjadi gadis periang, aku akan ikut bahagia dari atas sini melihatmu bahagia. Carilah penggantiku, namun jangan lupakan aku, ingatlah aku, Liam, milikmu yang selalu kau jambaki rambutnya, Liam yang selalu mencubit pipimu setelah itu menciumi pipimu, Liam yang selalu mengagumi senyum manismu. Namun, jangan juga kau ungkit aku dengan penggantiku nanti. Hanya cukup mengingatku selalu dihatimu, dan ingatlah juga disini aku akan selalu mencintaimu. i love you half to death, my Najla.
love, Liam

THE END
aku gak benci danielle kok ini cuman imagine aja :)
Komentar sangat diterima ;)
- saras xx
buatan kak Saras https://twitter.com/asasaras admin https://twitter.com/oneDforINA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar