pernahkah kau merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan tanpa alasan yang
jelas? Pernahkah kau mencintai seseorang begitu dalam, namun orang itu
malah menyakitimu sama dalamnya, dengan cara meninggalkanmu dengan
alasan yang amat tak pasti?
-Flashback-
"Kita harus menyudahi hubungan ini." aku menatapnya tak percaya. Menyudahinya? Aku tidak mau!
"Mengapa? Aku tidak mau!"
"Janganlah mempertahankan hubungan ini, atau kau akan tersakiti akhirnya."
Kutatap punggungnya menjauh. Kakiku terasa gatal untuk mengejarnya.
Namun.....kubiarkan ia menjauh, ini kemuannya... aku tak bisa
menentangnya.. aku tak bisa memaksanya untuk terus mencintaiku..
-Flashback off-
25 Januari 2012
Kau terus hadir dalam mimpiku, disetiap pagi ketika mataku terbuka
sampai malam waktunya mataku tertutup lagi, kau selalu menari-nari dalam
pikiranku. Kau bukanlah milikku lagi, tapi, aku masih saja mencintaimu.
Aku tahu, aku tak seharusnya begini, ini memang salahku, salahku yang
masih mencintaimu dan mengharapkanmu. Seharusnya dari awal kau tak harus
mencintaimu, bahkan aku tak harus bertemu denganmu. Tapi ini semua
memang sudah takdir, takdir bahwa aku harus 'pernah' mengenalmu, dan
harus mencintaimu sedalam ini.
“Najla..." aku menengok ke arah suara, kulihat kak David berdiri didepan
pintu, menatapku penuh khawatir. Kemudian kak David berjalan kearahku,
lalu memelukku sambil mengusap-usap kepalaku.
"Kau memikirkannya lagi?" tanya kak David masih mengelus-elus kepalaku. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum paksa.
"You don't have to be like this Na... masih banyak lelaki lain bukan?"
aku menatap kak David miris, 'memang banyak lelaki lain, tapi yang aku
sayang dan cintai hanya dia kak' ucapku dalam hati.
"Yasudah ayuk makan malam, kita sudah ditunggu dibawah."
"Kau duluan saja kak, aku mau mencuci mukaku dulu." kak David mengangguk
mengerti, lalu keluar kamarku. Sedangkan aku masih terduduk dikasurku,
aku menghela nafas panjang, lalu berjalan ke wastafel untuk membasuh
mukaku, mengurami sembab dimataku.
...
27 Januari 2012
Aku memutuskan untuk pergi sendirian ke toko buku hari, membeli beberapa
novel untuk menemani weekendku yang sepertinya akan tidak menyenangkan.
Setelah itu, aku memutuskan untuk membacanya ditaman yang tidak jauh
dari rumahku, sekaligus mencari ketenangan ditaman tersebut, aku sangat
butuh ketenangan beberapa hari ini.
Baru beberapa menit aku duduk di salah satu bangku panjang ditaman,
perasaan ku sudah mulai tidak enak. Entah apa maksud perasaan aneh ku
ini, namun hati kecilku memaksaku untuk pergi dari taman sekarang juga.
Namun aku hanya mengabaikan perasaan tersebut, lalu melanjutkan membaca
novel tebalku.
"i love you"
"i hate you"
"nooo you love me haha"
"no"
"uh okay"
"hahaha no, ofc i do love you so much"
Aku mengangkat kepalanya yang sedaritadi menunduk membaca buku. Mataku
kemudian mencari-cari suara lelaki dan perempuan yang sepertinya tak
asing ditelingaku, kemudian mataku menangkap dua sosok yang kucari, dua
sosok yang sebenarnya tak ingin kutemui sama sekali, dengan miris
kutatap dua sosok yang begitu mesra tersebut, lalu setelah itu aku
dengan cepat berlari meninggalkan taman, membiarkan beberapa novelku
tertinggal dibangku tempatku duduk tadi.
...
29 Januari 2012
Aku rasa aku memang sudah kelewat bodoh, aku seharusnya menghentikan ini
semua. Aku harus berhenti mencitaimu, dan berakting didepanmu seolah
aku baik-baik saja. Tapi...apakah aku bisa? Kurasa perasaan ini sudah
begitu dalam. Perasaanku bagaikan air lautan yang harus diisi air selama
bertahun-tahun agar terisi penuh dengan sempurna. Mungkinkah aku
berlebihan? Aku tak perduli, bagaimana pun, perasaan ini memang sangat
sulit untuk kuhapuskan.
"ia mencari mu dibawah" aku mengerenyitkan dahiku, 'dia'? dia siapa?
"siapa kak?" tanyaku bingung pada kak David. Kak David terlihat menghela nafas pelan, membuatku semakin bingung.
"liam." aku membelakakan mataku, lalu menggeleng pada kak David.
"Temui saja, kalau dia macam-macam padamu akan ku hajar." aku terkekeh
kecil dengan ucapan kak David. Lalu akhirnya aku mengangguk dan berlari
kecil menuruni tangga.
Kulihat ia berdiri didepan pantry, mengobrol dengan ayahku, ia
mengenakan baju berwarna coklat, warna favoritku. Aku tersenyum kecil,
lalu berjalan menghampirinya dengan ragu.
"hai Princess" aku tersenyum pada ayahku. Lalu ia kemudian menengok
padaku, sambil tersenyum manis, manis sekali, senyum yang sangat
kurindukan, senyum yang dulunya milikku.
"ayah kekamar ya" aku melirik ayahku sinis, dan sedikit memohon agar ia
tetap diberdiri disampingku, namun karena keisengannya, ayah malah
benar-benar meninggalkan aku berdua dengannya.
"hei Na..." sapanya sambil mencubit pipiku gemas. Itu memang sudah
kebiasannya, mencubit pipiku saat kami bertemu, dan setelahnya aku
menonjok bahunya pelan.
"hei Liam..." balasku. Kemudian Liam menyodorkan beberapa buku tebal,
atau lebih tepat novel. Novel-novelku yang beberapa hari lalu tertinggal
ditaman. Aku menerima novel-novelku tersebut sambil tersenyum canggung.
Liam tau novel-novel ini milikku, itu berarti beberapa hari lalu itu,
ia melihatku bukan?
"umm... kau..."
"iya aku melihatmu, saat ingin kusapa kau malah sudah lari duluan
hahaha" Liam tertawa, kemudian aku ikut tertawa, tawa paksa yang
kedengarannya hambar.
"oh haha, jadi kau kesini hanya untuk membawakan novelku yang
tertinggal." Liam mengangguk sambil tersenyum kecil, setelah itu terjadi
keheningan diantara kami.
"sebenarnya aku juga ingin bertemu denganmu, aku rindu sekali padamu,
aku juga rindu menyubiti pipimu. dan akhirnya aku bisa mencubit pipimu
lagi" ucap Liam akhirnya setelah beberapa menit dalam keheningan.
Nafasku tercekat. apa maksudnya?... lalu kemudian aku hanya tersenyum
kecil, tidak tahu ingin berkata apa. Diam-diam juga, air mataku mulai
mengintip dibalik pelupuk mataku. Aku tidak boleh menangis depannya...
"umm.. Liam, aku... kepalaku pusing, aku kekamarku ya terimakasih novelnya" ucapku lalu berlari cepat menuju kamarku.
"Najla, kau kenapa? Apa yang ia lakukan padamu? Haruskah kuhajar dia?"
tanya kak David yang ternyata masih berada didalam kamarku. Aku
menggeleng sambil menghapus air mataku yang baru menetes.
"Tidak, kak. Kau temui saja Liam, temani saja ia mengobrol, kumohon...
aku baik-baik saja kok, kak" kak David kemudian mengangguk, mengecup
keningku sekilas, lalu ia berjalan keluar kamarku. Dan aku mulai
menangis deras.
Tidak seharusnya aku menangisinya, dan tidak seharusnya juga ia berkata
ia merindukanku. Jujur, itu adalah kata-kata yang aku rindukan darinya,
namun... ia mengucapkannya disaat yang sangat tidak tepat. Tidak tahukah
ia bahwa aku sedang berjuang mati-matian melupakannya? Atau sebenarnya
ia sengaja, agar aku semakin susah untuk melupakannya? Mengapa ini semua
menjadi begitu sulit...
...
2 Februari 2012
Semakin lama, ia semakin jauh dariku. Tapi... hatiku? Sama sekali tidak
semakin jauh, hatiku tetap pada pendiriannya, ia masih mengharapkannya,
ia masih mencintainya. Sudah berkali-kali aku meyakini diriku dan
hatiku, ia tak mungkin kembali, ia sudah bahagia dengan kekasihnya, ia
bahkan sudah melupakanku, ia tak pernah lagi menyapaku, ia sudah sangat
jauh, bukanlah Liam yang dulu, yang selalu menyapaku, membuatku
tersenyum, tertawa, yang selalu mencubit pipiku, dan menggendongku saat
aku malas untuk berjalan, bukan lagi...
"Najla, Liam mesra sekali ya dengan Danielle." ucap sahabatku Bella,
kemudian aku hanya tersenyum kecil sambil menatap miris Liam dan
kekasihnya Danielle yang sedang berjalan bergandengan tangan.
"Umm, Na... kau, umm, maaf" aku menengok ke Bella lalu menatapnya bingung.
"maaf?"
"Ya... kau masih..."
"Tidak, sudah tidak kok, tidak perlu minta maaf, lagipula mereka berdua
memang terlihat mesra dan sangat cocok" aku berucap pelan lalu tersenyum
paksa, kugigit bibir bawahku, mengurangi rasa sesak didadaku. Ya,
mereka cocok, sangat cocok, ucapku dalam hati.
"cocok? siapa bilang cocok? Kau lebih cocok dengan Liam, Danielle memang
cantik, tapi kau tidak kalah dari Danielle, bahkan kau lebih cantik
darinya, Danielle bisa mendapatkan Liam hanya karena kelicikannya dan ya
kau tahu....she's a..... you know lah. Bagaimana pun, seluruh siswa
disekolah ini pasti akan lebih setuju bila Liam denganmu, kau dan Liam
akan selalu menjadi pasangan yang paling serasi, walaupun kalian tidak
seperti dulu lagi." aku tersenyum kecil pada Bella, lalu memeluknya
erat. Ia memang sahabat terbaikku, Bella selalu bisa menenangkanku.
"Bagaimana kalau kita ke kelas saja? Sepertinya sebentar lagi bel
masuk." Aku mengangguk pada Bella, lalu berjalan dengan malas menuju
kelas.
Setengah jam sudah, kak David dan mobilnya tak kunjung terlihat. Aku
sedaritadi berdiri didepan gerbang sekolah menunggu kak David
menjemputku, namun sudah setengah jam lebih ia sama sekali belum
menjemputku, bahkan sekolah saja sudah hampir sepi. Aku ingin naik
taksi, namun uangku sepertinya tidak cukup, apalagi kalau ada macet.
Aku mendengus kesal, lalu berusaha menghubungi kak David, berkali-kali
kutelfon kak David namun tak satupun yang ia jawab. Aku semakin kesal,
lalu berkali-kali mendesah dan berdecak pelan. Aku benci menunggu,
sungguh membosankan.
Kudengar suara motor, aku memejamkan mata mengira-ngira itu adalah motor
Liam, lalu tak lama aku membuka mataku, dan benar saja motor sport Liam
yang berwarna hijau sudah berada disampingku. Jantungku mulai berdetak
tak karuan, namun seketika dadaku malah terasa sesak melihat seseorang
yang diboncengnya. Jujur saja, aku merasa sedikit kecewa karena tadinya
aku mengharapkan Liam akan mengantarku kerumah, tapi sayangnya aku lupa,
ia punya seseorang yang lebih penting yang harus ia antar pulang dengan
selamat. Aku meringis dalam hati, kemudian kulihat motor Liam mulai
berjalan. Kemudian aku semakin terhenyak, apa maksudnya tadi? Berhenti
disampingku namun sama sekali tidak menyapaku atau menanyakan apapun.
Apa ia hanya ingin pamer dan membuat ku cemburu?
Aku menggigit bibir bawahku, lalu menatap kebawah, menatap sepatuku,
berharap aku bisa menemukan ketenangan pada sepatu merahku tersebut.
Bodoh memang, sama sekali tidak masuk akal. Tidak lama, kudengar suara
klakson mobil, dan benar saja, kakakku yang bodoh baru datang. Dengan
cepat aku masuk ke mobilnya, lalu mulai menangis. Najla.... Kau sungguh
cengeng.
"Najla? Mengapa kau tiba-tiba menangis, huh?" aku menengok ke kak David
dengan mataku yang penuh dengan air mata. Lalu kutonjok dadanya
berkali-kali, kak David yang tadinya baru ingin menginjak gasnya,
seketika menghentikan niatnya tersebut.
"Mengapa kau lama sekali menjemputku bodoh!"
"Aku..."
"Kau lama sekali! lain kali kau harus menjemputku lebih cepat! Kau
bodoh!" Kemudian kak David menepis tanganku halus, lalu memelukku, ia
sungguh kakak yang baik untukku.
"Okay Barbie, maaf lain kali akan ku jemput kau lebih cepat, sekarang
aku akan menyupir, kau berhenti menangis, lalu ceritakan semuanya
dirumah, oke?"
Sesampainya dirumah, aku tidak menceritakan apapun tentang Liam pada kak
David, aku hanya memberi alasan bahwa aku takut menunggu apalagi
sekolah sudah hampir sepi. Untungnya ia percaya-percaya saja, walau
kulihat dimatanya ia sama sekali tidak percaya. Dia sungguh kakakku yang
terbaik..
...
13 Februari 2012
"Ku dengar Liam dan Danielle sedang bertengkar" aku terkekeh kecil
dengan ucapan Bella. Lalu? Apa urusanku bila mereka bertengkar? Pikirku.
"Mengapa kau malah tertawa? Mengapa kau tidak kaget, setelah itu kau boleh tertawa."
"Kaget? Untuk apa?"
"Ya, karena bisa saja setelah bertengkar mereka putus. Dan itu
kesempatan yang bagus untukmu dan Liam agar bisa seperti dulu lagi. Iya
bukan?" Aku semakin terkekeh geli, membuat Bella menatapku penuh
bingung.
"Kau daritadi hanya tertawa saja, bukankah biasanya kau menangisi lelaki itu?"
"Ah tidak, aku... aku fikir tidak penting menangisinya, iya bukan?"
Bella menengangguk mengerti, lalu tiba-tiba memeluk ke erat, membuat
nafasku sesak.
"Akhirnya Najla kembali seperti dulu! Ah, bagaimana pulang sekolah nanti kita shopping, besok malam ada prom bukan?"
"SHOPPING?!? DENGAN SENANG HATI!" ucapku semangat, i love shopping more than i love him!
"Najla aku rindu sekali kau yang seperti ini"
"Ugh please, aku sudah lelah terus berada dalam keterpurukan hahahaha"
kemudian aku dan Bella tertawa geli dikantin, kami sadar siswa siswi
yang lain sedang memperhatikan kami, namun kami tidak perduli.
...
14 Februari 2012
Happy Valentine! Hari ini hari Selasa, namun tidak ada sekolah hari ini,
karena nanti malam akan ada prom. Prom special hari Valentine. Idk
who's my Valentine, aku juga tidak tahu siapa pasanganku ke prom nanti..
Kulirik jam dindingku, jarum pendek menunjuk angka 3, okay, 3 siang, aku
bukan tukang tidur, hanya saja aku baru tidur pukul 6 pagi tadi, aku
sibuk bermain tumblrku, tumblr sedikit membuatku gila... Kemudian aku
bergegas menuju kamar mandi, pukul 7 sebentar lagi, sedangkan aku butuh
waktu yang sangat lama untuk berdandan. Ya biasa, wanita.
1 jam sudah aku didalam kamar mandi. Lalu aku mulai menyiapkan gaun dan
sepatuku. Gaun pendek tanpa lengan berwarna hijau yang indah, seperti
apa indahnya? umm, aku tidak bisa mendekripsikannya. Lalu higheels
berwarna putih dengan blink yang mempercantiknya untuk menghiasi
kakikku.
Kuputar tubuhku didepan cermin. Aku sudah siap dengan rambutku yang ku
curly dibagian bawahnya, dan juga dengan make up tipis. Kuraih tas
tanganku, setelah itu aku menuju lantai bawah rumahku.
"aww, Najla my girl, kau cantik sekali" puji ibuku, membuat aku tersenyum malu.
"Liam pasti akan menyesal menyia-nyiakanmu" aku melirik kesal ayahku. Haruskah menyebut nama Liam, ayah? geramku dalam hati.
"Setuju, Liam pasti akan meleleh melihatmu." aku mendengus kesal kepada
kak David. Kemudian ayah, ibu, dan kak David malah mentertawaiku. Ah
sungguh, mereka bagaikan penghancur moodku. Tak bisakah mereka
membantuku melupakannya, hanya dengan berhenti menyebutkan namanya
setiap saat?
"Sudahlah, maafkan ayah dan kakakmu. Antar adikmu David." kak David
mencium pipi ibuku sekilas, lalu merangkulku, kemudian kami berjalan
menuju mobilnya.
Aku turun dari mobil, kemudian mataku menengok ke kanan-kiri mencari
Bella, atau siapa saja yang ku kenal. Dan kemudian mataku mengangkan
sosok lelaki berambut emas, yang kebetulan juga sedang melihatku, bahkan
berjalan ke arahku.
"Kau cantik sekali malam ini, as usual" ucap lelaki tersebut, ia adalah
kapten football disekolahku, dan ia sangatlah tampan, bahkan ia adalah
mantan pacarku.
"Haha terimakasih, kau juga terlihat sangat tampan, as usual" kemudian aku dan Dylan sama-sama tersenyum malu.
"Umm... kau sudah dapat pasangan?" tanyanya sambil menggaruk tengkuknya
dengan lagak salting. Aku terkekeh kecil, mengerti maksudnya.
"Kebetulan belum, dan kau tentu boleh menjadi pasanganku malam ini." balasku to the point.
"Uh? Kau yakin sekali aku juga belum punya pasangan?" tanyanya lagi
dengan tatapan serius. Membuat perlahan senyumku mengendur, malah
berubah menjadi senyum aneh.
"Umm... hehe" aku tertawa garing.
"Hahahahahahahahaha ayuk masuk, you're my princess for tonight" aku
menatapnya geram kemudian menonjok lengannya yang berotot, lalu aku
menggandeng lengannya tersebut dan berjalan beriringan memasuki gedung
tempat prom berlangsung.
Entah perasaanku saja, atau bagaimana, saat aku dan Dylan masuk,
orang-orang langsung menatap kami dengan berbagai macam tatapan. Seperti
"apakah mereka berdua kembali bersama?" "wah mereka sangat cocok."
"bagaimana mereka bisa bergandengan tangan mesra seperti itu?". Aku dan
Dylan hanya tertawa kecil, tidak begitu mementingkan tatapan-tatapan
aneh tersebut. Aku pun tidak perduli dengan para gadis yang menggilai
Dylan sedang menatapiku sinis, Dylan juga tidak perduli dengan para
penggemarku. Um, kami tidak sombong, hanya saja.....um, ah tak tahu.
Kemudian mataku tak sengaja menangkap mata Liam. Tatapannya begitu
miris, entah apa maksud tatapannya tersebut, seperti terpancar kesedihan
pada tatapannya, membuat aku juga merasakan sedih. Kalau aku boleh
jujur, tawa dan senyumku akhir-akhir ini adalah palsu, aku masih
mencintainya, aku masih merindukannya, namun aku tak ingin terus dalam
keterpurukan..
Aku membuang mukaku, lalu kembali melingkarkan tanganku dilengan Dylan,
lalu lanjut menyapa teman-temanku yang lainnya bersama Dylan.
"Wow kalian berdua sedari dulu memang sangat cocok!" ucap suara cempreng
yang tiba-tiba muncul dihadapanku dan Dylan. Aku mengerinyitkan dahi,
lalu tertawa garing.
"Tunggu sebentar, aku memanggil kekasihku dulu" ucap suara cempreng itu
lagi. Aku mengulum bibirku, dan mendesah pelan, haruskah ia memanggil
kekasihnya? Haruskah? lirihku dalam hati. Kemudian, Danielle, sang
pemilik cempreng tersebut kembali bersama kekasihnya. Ah, bukannya
mereka sedang bertengkar, huh? Umm, mungkin sudah berbaikan.
Aku terus-terusan berdesah pelan, bahkan sedaritadi aku hanya menunduk, aku tidak berani menatapnya sedekat ini.
"Kalian berdua, sangat...um cocok." ucap suara berat kekasih Danielle
tersebut. Aku semakin meeratkan pelukanku pada lengan Dylan.
"Tentu saja kami pasti akan menjadi Raja dan Ratu untuk prom malam ini"
canda Dylan yang sepertinya berusaha memecahkan kecanggungan antara aku,
dan.... Liam.
"Tidak, aku dan Liam pasti yang akan menjadi Raja dan Ratu, benar kan
sayang?" canda Danielle. Kemudian Liam, dan Dylan tertawa, aku masih
diam saja, menunduk.
"Kau cantik sekali Na malam ini, ya seperti biasa kau selalu terlihat
cantik." Aku semakin terdiam, lalu keberanikan untuk mengangkat
kepalaku, memastikan apa benar ia yang berkata seperti itu....
Kemudian kulihatnya sedang menatapku sambil tersenyum manis, lalu
kutatap Danielle, ia sedang menatapku sinis, kemudian aku kembali
menunduk dan mendesah pelan. Aku menarik-narik lengan Dylan, lalu
menatapnya dengan tatapan memohon, dan untungnya ia mengerti.
"Kau sepertinya masih sangat mencintainya ya.." ucap Dylan sambil
menyodorkan minuman kepadaku. Aku hanya menatapnya miris dan tersenyum
miris.
"Bahkan sepertinya dulu kau tidak begitu mencintaiku.." tambahnya lagi.
Aku semakin menatapnya miris dan menyesal. Ya, dulu memang aku sering
sekali mencueki Dylan, aku tidak benar-benar sayang padanya dulu.
"Maaf" ucapku pelan sambil menghela nafas.
"Tidak apa-apa. Yang penting aku senang aku bisa membuatmu tersenyum." kemudian aku tersenyum lebar, senyum yang sangat tulus.
"Kau tidak berubah, tetap perhatian padaku." ucapku sambil menonjok lengannya pelan.
"Hahaha tentu. Umm, wanna dance?" aku menatap Dylan gugup. Ugh sungguh, aku tidak bisa berdansa.
"Dyl..." ucapku sambil memutar mata. Kemudian ia terkekeh, Dylan memang tahu aku tidak bisa berdansa.
"Ayolah" pintanya memohon, kemudian akhirnya aku mengangguk.
Aku menangis dalam hati, kulihat ia berdansa dengan kekasihnya. Berdansa
dengan senyum yang mengembang dipipi keduanya. Mengapa mereka berdua
begitu mesra? Mengapa mereka berdua begitu cocok? Kutatap sekali lagi
mereka berdua. Sial, mataku bertemu dengannya. Dengan cepat kubuang
mukaku, lalu kusenderkan kepalaku pada dada bidang Dylan. Ah... dada
Dylan sangat nyaman senyaman dadanya. Oh tidak Najla, lupakanlah dia...
"You okay?" tanya Dylan padaku yang baru saja menyenderkan kepalaku didadanya.
"Uh? Tentu saja, tidak apa-apa kan aku bersender didadamu?" tanyaku balik dengan kikuk.
"Tentu boleh hahaha"
Kupejamkan mataku, kepalaku masih menyender didada Dylan, kedua tanganku
kulingkarkan dikedua lehernya. Aku mati-matian menahan air mataku.
Mengapa aku begitu cengeng... Dan mengapa ini semua begitu sulit dan
menyakitkan...
Kemudian aku merasa Dylan menghentikan dansanya, lalu berbicara pada
seseorang yang sepertinya bukan aku. Lalu aku mengangkat kepalaku, dan
aku cukup kaget melihat siapa yang berbicara dengan Dylan. Dylan lalu
melepaskan tangannya dari pinggulku dan berjalan entah kemana. Aku
mengkerutkan dahiku, kemudian tiba-tiba Liam berdiri tepat dihadapanku.
Aku merasa sangat canggung, dan kuputuskan untuk menyusul Dylan, namun
tiba-tiba tanganku ditahan oleh Liam.
"Berdansalah denganku" pinta Liam. Aku terdiam sejenak. Apakah Danielle
akan marah padaku bila aku berdansa dengan Liam? tanyaku dalam hati.
"Come on" ajak Liam lagi. Aku masih terdiam. Sudahlah Na... kapan lagi
kau berdansa dengannya? Kemudian aku mengangguk sambil tersenyum malu.
Ah... biarkan aku berdansa dengannya malam ini saja, Tuhan.
Keheningan terjadi selama dansa ku dengan Liam. Aku tidak menatap pada
mukanya, aku hanya menatap kesamping, atau kebawah. Entahlah... itu akan
menyakitkanku bila aku menatap wajahnya yang sejujurnya kurindukan
untuk kulihat dari jarak yang dekat seperti sekarang ini.
"Mengapa kau hanya menunduk?" tanya Liam tiba-tiba. Membuat jantungku
yang sudah tak terkontrol semakin berdetak tak karuan. Kemudian akhirnya
kuberanikan mataku menatap wajahnya, ia tersenyum padaku. Senyumnya
memang sangatlah indah bagiku...
"Aku tidak suka melihatmu menggenggam Dylan seperti tadi" aku terdiam, lalu menatapnya bingung. Apa maksudnya?
"Aku tidak suka kau terlihat begitu mesra dengannya."
"Aku tidak suka kau menyenderkan kepalamu tadi didadanya."
"Aku tidak suka melihatmu berdansa dengannya."
"Yang terpenting, aku tidak suka melihatmu dengan orang lain."
Deg.. Aku semakin terdiam. Apa maksud kalimat-kalimatnya barusan... Lalu
kutatap ia dengan sinis, kemudian kudorong dadanya, dan berlari menjauh
darinya. Tidak suka? Apakah ia cemburu? Atau apakah maksudnya adalah
untuk mempersulitku untuk melupakannya?!
Aku berlari keluar gedung. Aku menangis... Ya, aku menangis. Sungguh aku
benci harus menjadi wanita cengeng, aku tidak ingin menjadi wanita
cengeng seperti ini...
Angin malam yang begitu dingin menusuk tulangku. Sungguh dingin diluar
sini, tapi aku juga enggan masuk kembali kedalam. Aku tidak mau
melihatnya, aku masih tidak mengerti dengan ucapan-ucapannya yang begitu
menyakitkan untuk ku mengerti.
Kemudian, kurasakan badanku terasa hangat. Ternyata Dylan membiarkan
jasnya menutupi bahuku yang terbuka. Aku tersenyum, lalu memeluknya
masih sambil terisak. Bisakah aku berhenti mencintai Liam, agar aku bisa
mencintai Dylan... lirihku dalam hati.
"Kumohon antar aku pulang"
...
-Flashback-
"Tahukah mengapa kau begitu indah dimataku?" tanyanya sambil menatap
mataku lekat-lekat lalu menyisipkan rambutku ke belakang kupingku.
Kemudian aku tersenyum dan terkekeh geli.
"Umm, mungkin karena memang aku begitu mempesona?" balasku bercanda.
"Ya benar, itu salah satunya. Lainnya adalah, karena.... karena kau
begitu cantik manis, dan kau sungguh gadis periang dimataku, aku selalu
memperhatikanmu sejak dulu, tiada hari tanpa senyum dan tawa lepas dari
bibirmu. Aku sangat suka dengan senyumanmu, senyum mu sangat indah, tawa
mu, begitu menggelitik perutku. Berjanjilah, tetaplah jadi gadisku yang
periang. Aku sangat menyayangimu, kapanpun, bagaimana pun, apapun yang
terjadi, hanya kau gadis yang akan selalu ku cinta."
-Flashback off-
21 Februari 2012
Kalau bisa, aku juga tidak ingin terus seperti ini. Aku juga lelah
sebenarnya mengharapkan mu yang sudah jelas-jelas tidak pasti. Ya, aku
tahu, sudah ku bilang bukan, aku tahu aku bodoh, amat bodoh. Tapi
biarkanlah aku seperti ini, toh setidaknya cepat atau lambat aku akan
benar-benar terlepas dari keterpurukan ini. Aku juga lelah menangisinya
mulu, walau sekarang memang aku sudah tidak begitu sering menangisinya,
aku mulai terbiasa dengan rasa sakit ini. Dan.. ohiya, aku harus ingat
dengan kata-katanya dan juga janjiku, aku harus terus menjadi gadis yang
periang. Aku.... aku harus bisa cepat menghapus rasa ini. Harus.
Tapi.... apa yang terjadi nantinya bila aku sudah berhenti mencintainya,
namun ia kembali kepadaku? Apakah ucapannya dulu itu benar tentang
'akan selalu mencintaiku, kapan pun, dan bagaimana pun?'. Tuhan... ini
semua sangatlah mempersulitku..
"Kau sudah melihat Liam hari ini?" Ah, haruskah setiap hari semua orang menanyakan Liam kepadaku?
"Belum Bel, memang kenapa?" tanyaku malas.
"Tidak apa-apa, tapi ku dengar, ia sedang sakit." apa? Liam sakit? Ah, sudahlah bukan urusanku.
...
25 Februari 2012
5 hari sudah. 5 hari ia tak masuk sekolah. Kemanakah Liam? Sebenarnya ia
sakit apa? Apakah sakitnya parah? Haruskah aku menjenguknya? Aku rindu
padanya, sangat merindukannya.
Aku duduk sendirian dikantin, Bella sedang ke perpustakaan, meminjam
buku, entahlah buku apa. Aku mendesah pelan sambil mengaduk-aduk orange
juice ku, lalu tiba-tiba seseorang menepuk pundakku, membuatku menjerit
cukup kencang.
"OMG! wtf you, Dylan" geramku lalu meliriknya sinis. Kemudian ia malah tertawa, membuatku semakin geram.
"Apa yang lucu, huh?" ucapku lagi, kesal.
"hahahahaha tidak ada yang lucu. Mengapa kau diam saja sendirian? Umm,
kau baik-baik saja?" aku memutar mata malas. Tentu saja aku baik-baik
saja, memang ada yang aneh dariku? ucapku dalam hati.
"Ya aku baik-baik saja."
"Aku tahu, kau pasti memikirkan Liam kan?" tanya Dylan tak bersemangat. Kemudian aku menghela nafas, ikut tak bersemangat.
"Yea, i guess" jawabku malas. Aku sungguh sedang malas berbicara dengan
siapapun. Lalu kemudian untungnya bel berbunyi, dan kemudian aku
langsung berlari duluan kekelas, meninggalkan Dylan yang masih duduk
dikantin.
Pulang sekolah, entah apa yang membuatku membawa mobilku kedepan rumah
Liam. Kebetulan, hari ini aku membawa mobil sendiri, karena kakakku hari
ini ada acara dengan teman-temannya.
Aku menginjakkan rem mobilku, dan dengan sedikit ragu aku berjalan kedepan pintu rumahnya.
Aku tidak percaya dengan apa yang kulihat. Apakah ini sungguhan? Ataukah
hanya mimpi? Hatiku terasa teriris-iris melihatnya, ini....sungguh
menyakitkan. Ya Tuhan, bisakah kau membangunkanku dari mimpi buruk ini?
Aku meneteskan air mataku. Aku berjalan pelan dengan ragu... Lalu kuraih tangannya, kuusap rambut coklatnya...
"Liam..." ucapku terisak. Aku tidak kuat melihatnya, mukanya begitu
pecat, ia terbaring lemah diranjangnya. Bahkan... tubuhnya penuh dengan
peralatan-peralatan rumah sakit. Ya Tuhan... bisa jelaskan apa yang
terjadi sebenarnya pada dirinya?
"Keadaan Liam semakin lama semakin melemah.." ucap suara lembut
dibelakangku , yang ternyata adalah ibunya Liam. Lalu aku menatap ibu
Liam dengan penuh tanya.
"Sebenarnya ia sakit apa, bibi?" tanyaku lirih.
"Yang jelas, Liam sakit parah Na, ia tidak mau orang-orang terdekatnya
dan yang ia sayang tahu, ia menyebunyikan semuanya dari teman-teman
dekatnya disekolah, dan juga kamu, Na.."
Aku hanya terdiam. Kutatap wajahnya yang pucat. Ku genggam erat
tangannya yang dingin. Liam... Separah apakah sakitmu? Akankah suatu
hari kau meninggalkanku karena penyakitmu? Kumohon Liam jangan
tinggalkan aku... Aku tak perduli walaupun kau bukan milikku, yang jelas
aku tak mau kau pergi dari dunia ini. Aku mencintaimu Liam...
...
2 Maret 2012
Akhirnya ia kembali kesekolah. Senyum kecil terlukis dibibirku saat aku
sadar ia sedang bermain basket bersama teman-temannya dilapangan. Ia
bahkan sama sekali tak terlihat seperti orang yang sakit, hanya saja
mukanya sedikit pucat, namun tidak begitu kentara.
Kemudian, ia mengakhiri permainannnya, dan berjalan kearahku. Ah,
benarkah ke arahku? Kulihat ke kanan dan ke kiri, dan umm, bukan ke
arahku melainkan aku duduk ditempatnya meletakkan tas dan air
mineralnya.
Ia duduk tepat disampingku, meneguk minumannya kemudian mengelap
keringatnya. Ia sama sekali tidak menyapaku, bahkan sepertinya ia tidak
sadar ada aku disebelahnya. Aku sedikit berdesah pelan, lalu aku
melangkah pelan menjauhinya.
"Tunggu!" tiba-tiba suaranya menghentikanku. Aku menghentikan langkahku. Lalu dengan ragu dan gugup kuputar badanku.
"Aku ingin berbicara denganmu" ucapnya sambil menatap kedepan. Kemudian, aku melangkah ragu menuju tempatnya duduk.
"hhh" ia menghela nafas, membuatku ikut menghela nafas panjang. Ku hirup
oksigen sebanyak-banyaknya, hhh aku benar-benar butuh oksigen. Kemudian
keheningan menyelimuti kami. Ia sama sekali tidak memulai percakapan,
begitupun aku, aku tak tahu apa yang ingin kubicarakan, karena bukankah
ia yang ingin berbicara kepadaku?
"Jadi..." ucapnya akhirnya.
"Kau sudah tau bukan, aku...aku sakit, aku penyakitan." ucapnya tenang.
Kemudian kuberanikan diri menatapnya yang sedang menatap kedepan. Ya
Tuhan, aku rindu sekali menatapnya seperti ini... lirihku dalam hati.
Kemudian aku mengangguk pelan.
"Aku bahkan tak tahu kapan penyakit ini aku membunuhku, dan membuatku
meninggalkan dunia ini, juga meninggalkan kau...." kali ini ia berucap
lirih, kemudian ia memutar kepalanya, dan sekarang ia sedang menatapku.
Aku membalas tatapannya.... namun ini begitu menyakitkan, karena kulihat
matanya penuh dengan kesedihan dan kepedihan.
"Kau.... tidak akan meninggalkan dunia ini." ucapku dengan nada yang
bergetar. Ia menarik nafasnya begitu berat, kemudian aku mulai menunduk,
tak berani lagi menatap wajahnya.
"Kuharap begitu. Tapi, cepat akan lambat aku akan, Na..." ia berucap
semakin lirih. Membuat hatiku begitu sakit mendengarnya. Kemudian, air
mata sialanku mulai mengalir, aku menangis dihadapannya...
"Na... kau menangis?" tanyanya sambil mengangkat daguku. Sekarang mataku
bertatapan dengan mata indahnya yang meredup. Aku menepis tangannya
halus dari daguku, kemudian ku hapus air mataku.
"Aku.... harus kembali ke kelas" ucapku lalu mulai membalikkan badanku.
Namun tanganku ditahannya, membuatku lagi-lagi harus menengok kepadanya.
"Pulang sekolah kau ikut denganku, kerumahku, jangan menolak.
Kumohon..." aku hanya terdiam, lalu dengan cepat aku berlari
meninggalkannya.
Disinilah aku terduduk, di sofa biru dikamarnya. Aku baru sadar,
kamarnya bau obat-obatan, padahal tahun lalu, kamarnya sama sekali tidak
tercium bau obat-obatan, hanya ada bau wangi parfum maskulinnya.
Jadi... sejak kapankah sebenarnya ia mengidap penyakit parah itu?
"Na, apa kau sudah tau satu hal?" tanyanya yang sedang terduduk dikasurnya. Kemudian aku menggeleng bingung, satu hal? apa itu?
"Kau ingatkah dengan perkataanku?" tanyanya lagi. Dan lagi-lagi aku
menggeleng, banyak hal dan banyak kata-kata yang ia ucapkan kepadaku.
"Tak ingatkah kau tentang...." gantungnya. Aku menatapnya penuh penasaran.
"Tentang aku akan mencintaimu, kapanpun, bagaimana pun, dan apapun yang
terjadi, kau akan selalu menjadi gadis yang kucinta..." aku terdiam. Aku
ingat, ingat sekali. Dan sekarang, aku pun tak percaya ia masih
mengingat ucapannya sendiri tersebut.
"Dan satu hal yang harus kau tahu..... aku serius dengan ucapanku
tersebut." DEG. Aku tak percaya dengan ucapannya. Aku terpaku,
menatapnya dengan tatapan tak percaya. Ia mencintaiku? Lalu mengapa ia
memutuskan hubungan kami? tanyaku dalam hati.
"Najla... maafkan aku" ucapnya lagi padaku yang masih tak bergeming. Aku hanya menunduk lalu menggeleng pelan.
"Alasanku menyudahi hubungan kita dulu, karena.... karena penyakitku"
kemudian ku angkat kepalaku, aku menatapnya penuh tanya. Apa maksudnya
ia menjadikan penyakitnya sebagai alasan?
"Benarkah? Mengapa kau menjadikan penyakitmu sebagai alasan?" tanyaku
lirih, sangat lirih. Kemudian ia menghela nafas, lalu menatapku penuh
menyesal.
"Na, maafkan aku. Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin melakukan itu,
tapi aku terpaksa, aku harus menyudahi hubungan kita, aku tidak mau kau
aku tersakiti dan menangis karena aku akan meninggalkanmu dan dunia ini
nantinya. Lalu Danielle, sebenarnya aku tak menyayanginya, aku hanya
ingin membuat kau cemburu ketika melihatku dan Danielle, aku hanya ingin
membuat kau membenciku, lalu melupakanku. Karena kukira, dengan cara
membenciku dan melupakanku, kau tidak akan menangis nantinya saat aku
pergi meninggalkan dunia ini, kau tak akan merasakan sakit karena
kehilanganku. Aku tidak ingin kau menangisi kepergianku nantinya."
Aku terdiam, semakin terpaku. Air mata mulai menangis deras dari mataku,
kemudian ia berdiri dan berjalan kearahku. Ia mendekatiku, lalu
memelukku. Aku tak membalas pelukannya, namun aku menangis semakin
deras. Lalu kemudian aku melepas kasar pelukannya, dan berlari keluar
kamarnya.
...
3 Maret 2012
Hoaam.. Aku baru terbangun dari tidurku yang tak begitu lelap. Kulirik
jam dindingku, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 10. Lalu kuraih
handphoneku, banyak sekali misscall dari nomer ibunya Liam. Jantungku
berdetak kencang, adakah hal buruk yang terjadi? tanyaku dalam hati.
Lalu tak berapa lama, iphoneku kembali berdering, dan dengan cepat
kuangkat.
"Najla? Bisakah kau kerumah sakit sekarang?" ucap suara disebrang telfon
dengan nada yang begitu panik dan resah. Dan dengan tak kalah panik,
aku langsung berlari kebawah, mencari kakakku.
"Kak David! bangun! kumohon bangun!" ucapku mengguncangkan tubuhnya yang masih terlelap dikasur.
"Ada apa, kau menggangguku saja" ucap kak David masih memejamkan matanya.
"Kak, kumohon antar aku kerumah sakit sekarang"
"Kak David!"
"Kak David kumohon antar aku kerumah sakit" Suaraku mulai bergetar, dan
aku mulai lelah membangunkan kakakku tersebut. Tapi, tak berapa lama kak
David terbangun dan cukup kaget melihatku yang memelas. Dengan cepat ia
meraih kunci mobilnya, kemudian menarik tanganku.
Aku berlari tergesa-gesa dilorong rumah sakit. Sedangkan kak David masih
memakirkan mobilnya. Aku masih berlari, bahkan aku masih mengenakan
piyama pinkku yang kebesaran, namun aku tidak perduli, lalu kulihat
kedua orangtua Liam sedang berpelukkan satu sama lain, kemudian aku
berlari semakin cepat menghampiri mereka.
"Apa yang terjadi dengan Liam?" tanyaku pada kedua orangtua Liam dengan
nafas yang tersengal-sengal. Kemudian ibu Liam hanya menunjuk kebelakang
badanku. Lalu aku memutar badanku, dan seketika air mata mengalir deras
dari mataku.
Dari balik kaca transparan, kulihat Liam yang sedang ditangani dokter
dan para suster terus melawan. Ia terlihat sangat kesakitan, sedangkan
dokter berusaha menyuntikkan sesuatu, mungkin penenang agar Liam bisa
diam. Aku terus menangis melihatnya, seolah aku bisa merasakan apa yang
ia rasakan. Kemudian kulihat Liam mulai tenang, dokter dan para
susterpun mulai keluar. Dokter mempersilahkan satu orang saja untuk
masuk ke ruang rawat Liam, dan kedua orangtua Liam mempersilahkan aku
masuk karena mereka bilang dari semalam Liam menyebutkan namaku.
Aku masuk ke dalam ruangan tersebut. Aku berjalan pelan ke arahnya yang
sedang terkulai lemas dikasur, lalu aku duduk disebuah bangku disamping
kasurnya. Ku genggam erat tangannya yang dingin, kutelusuri wajah
tampannya yang pucat. Kemudian ku hapus air mataku, aku tak boleh
menangis dihadapannya. Aku harus tersenyum, aku harus memberikkan
kekuatan padanya, aku tak boleh menangis, tak boleh.
Kemudian aku tersenyum, kuusap punggung tangannya, dan kuusap pipinya.
Tiba-tiba ia membuka matanya, dan langsung tersenyum kepadaku.
"Apakah aku sudah berada disurga?" ucapnya masih sambil tersenyum. Aku
hanya menggegeleng dan tetap tersenyum, padahal, aku sedang menahan
susah-susah air mataku.
"Senyummu indah sekali, Najla" ia mengelus-elus pipiku pelan. Aku
memejamkan mataku, memohon dalam hati, agar Tuhan tak mengambilnya.
"Najla, kau sudah memaafkanku?" tanyanya dengan ragu. Aku tersenyum
lebar lalu mengangguk. Kemudian dengan susah payah ia berusaha untuk
duduk, melihat itu, aku langsung membantunya untuk duduk.
"Na, peluklah aku." ucapnya semakin melemah. Lalu kemudian aku
memeluknya, dan menyenderkan kepalaku didadanya. Aku rindu sekali
seperti ini, kumohon Tuhan, biarkan ia hidup lebih lama...
"Na, terimakasih sudah memaafkanku dan terimakasih sudah tersenyum untukku, kau tahu, senyummu mengurangi rasa sakitku."
"Benarkah? Kalau begitu aku rela tersenyum kepadamu setiap waktu, bahkan
saat aku marah padamu sekalipun, asalkan kau berjanji tidak akan
meninggalkanku dan dunia ini." ucapku sambil melepaskan pelukanku dan
menatap matanya. Ia menghela nafas, lalu menatapku penuh kepedihan, dan
dengan cepat kupeluk ia lagi dan kembali menyenderkan kepalaku
didadanya.
"Aku tidak bisa berjanji" bisiknya lirih. Lalu aku hanya diam,
memejamkan mataku, membiarkan aku merasakan nyaman dan hangat
rangkulannya, membiarkan ia mengelus halus rambutku.
Semakin lama aku merasakan ia semakin lemah mengelus rambutku, ia bahkan
tak begitu erat lagi memelukku. Namun aku hanya mengabaikannya, mungkin
ia tidur dan butuh istirahat karena rasa sakitnya. Lalu, baru saja aku
ingin kembali memejamkan mataku, bunyi mengerikan yang tak akan pernah
mau kudengar, berbunyi nyaring, menyakiti kupingku dan juga hatiku.....
...
4 Maret 2012
Tak ada lagi dirinya. Tak ada lagi ia yang selalu mencubit pipiku. Tak
ada lagi ia yang selalu menggendongku saat aku malas berjalan. Tak ada
lagi ia yang akan membelikan aku ice cream dan balon saat aku marah
padanya. Tak ada lagi ia yang akan melakukan hal konyol demi membuatku
tertawa geli. Tak ada lagi suaranya Tak ada lagi pelukan hangatnya. Tak
ada lagi tatapan matanya yang begitu menenangkan. Tak ada lagi tawanya
dan senyumnya yang selalu membuat jantungku berdetak tak karuan. Tak ada
lagi alunan aneh yang keluar dari bibirnya. Tak ada lagi yang akan
menggendongku dan memutarku layaknya boneka. TAK ADA LAGI DIA DALAM
HARI-HARIKU, TAK ADA!
Sekarang ia hanya kenangan, kenangan indah yang begitu menyakitkan.
Semuanya tentangnya hanyalah kenangan, kenangan indah tetapi
menyakitkan. Aku tak akan lagi bisa merasakan pelukannya, aku tak akan
bisa lagi mendengar suaranya, tak akan bisa lagi....
Aku menatap tempat perisirahatan terakhirnya dengan nanar, mataku sudah
bengkak dan merah karena menangis sejak kemarin. Ia meninggal dalam
pelukanku, ia meninggal saat memelukku. Aku beruntung ada didekatnya
saat itu, walau keberuntungan itu cukup menyakitkan hatiku.
"Najla, dikotak ini ada beberapa kertas yang sepertinya surat untukmu
yang ditulis oleh Liam sebelum ia meninggal." ibu Liam menyodorkanku
sebuah kotak berwarna coklat yang aku terima dengan tangannya yang
bergetar. Kemudian kupeluk ibunya Liam sambil terisak.
"Terimakasih kemarin sudah menelfonku, bibi"
Aku merebahkan tubuhku dikasurku, air mataku mulai mengering. Lalu aku
teringat dengan kotak berwarna coklat tadi yang buru-buru kubuka.
Kubuka kotak tersebut, dan terdapat banyak sekali foto-fotoku yang
sepertinya ia ambil diam-diam. Kemudian kuraih satu foto yang menurutku
hasilnya paling bagus, dan ternyata dibalik foto tersebut ada tulisan
"Senyum miliknya adalah senyum terindah. Senyum yang selalu mewarnai
hariku, senyum yang membuatku lupa rasa sakit yang menjalar pada
tubuhku."
Kemudian air mataku kembali menetes, dan kutemukan 2 kertas yang berisi tulisan tangannya.
Kertas pertama berisikan:
Najla.. Nama yang sangat bagus dan juga lucu, selucu orangnya. Gadis itu
sudah membuatku gila karena sifatnya yang sungguh periang dan juga
menggemaskan. Wajahnya yang manis, rambut panjang coklatnya, mata
hijaunya, bibir pink, semuanya membuat aku gila. Aku sudah mengaguminya
cukup lama, dan aku tak percaya bahwa akhirnya ia akan menjadi milikku.
Namun, sebulan lalu, aku baru mengetahui aku mengidap penyakit parah,
yang namanya begitu aneh dan tak ingin ku hafalkan. Penyakit itu membuat
tubuhku terasa sakit bahkan kadang aku sulit bernafas dan lemah untuk
melakukan hal-hal berat karena penyakitku tersebut. Aku menyembunyikan
penyakitku ini pada gadisku tersebut, aku tak ingin ia khawatir padaku.
Aku hanya ingin ia tersenyum dan tertawa untukku, senyum dan tawanya
sungguh bagaikan obat untukku. Aku sungguh mencintainya, namun
sepertinya penyakitku ini memaksaku untuk harus menyakitinya...
aku mulai menangis deras, lalu dibacanya kertas lainnya yang berisikan:
Na, kau benar memaafkanku bukan? Kau tahu kan, aku menyayangimu, aku
sangat mencintaimu, sampai kapanpun, dan bagaimanapun. Bahkan sampai
akhir hidupku, kau tetaplah gadis satu-satunya yang kucinta bukan?
Sekali lagi, aku minta maaf karena dulu aku memilih menyudahi hubungan
kita, aku pun tak mau begitu sebenarnya, aku hanya tak mau kau menangisi
kepergianku nantinya. Tapi ternyata aku salah besar, aku malah
membuatmu menangis lebih parah. Maaf aku sering memamerkan kemesraan
palsuku dengan Danielle, maaf. Aku bahkan menyesalinya sendiri,
memutusimu sama dengan menyiksa diriku sendiri. Aku benar-benar cemburu
melihat kedekatanmu dengan Dylan, dan aku benar-benar tersakiti
melihatmu menyenderkan kepalamu didadanya dan juga disaat kau
mendorongku kasar di malam prom tersebut.
Kau tahu, kemarin itu mendadak sakit menjalar diseluruh tubuhku saat kau
tiba-tiba menangis dan pergi dari kamar dan rumahku. Tepat saat kau
meninggalkanku kemarin, tubuhku tak bisa digerakkan. Kau lah kekuatanku,
tanpamu aku akan sangat melemah.
Najla, aku ingin kau tetap tersenyum untukku. Kumohon jangan pernah kau
hapuskan senyum itu dari bibirmu, aku berjanji aku akan selalu berada
didekatmu, walau tak terlihat olehmu, asalkan kau terus tersenyum.
Maafkan aku aku tak bisa lagi memelukmu, aku tak bisa lagi melakukan
hal-hal konyol untukmu, aku tak bisa lagi menggendongmu, aku juga tak
bisa lagi mencubiti pipimu, aku tak bisa lagi membawakanmu balon ketika
kau sakit, tak bisa lagi membelikanmu ice cream ketika mood mu sedang
memburuk, maafkan aku. Aku tak percaya harus meninggalkanmu hanya karena
penyakit sialan ini. Maafkan aku, kumohon, janganlah kau terus
menangisi kepergianku, tak ada gunanya bukan? Yang terpenting kau harus
selalu menjadi gadis periang, aku akan ikut bahagia dari atas sini
melihatmu bahagia. Carilah penggantiku, namun jangan lupakan aku,
ingatlah aku, Liam, milikmu yang selalu kau jambaki rambutnya, Liam yang
selalu mencubit pipimu setelah itu menciumi pipimu, Liam yang selalu
mengagumi senyum manismu. Namun, jangan juga kau ungkit aku dengan
penggantiku nanti. Hanya cukup mengingatku selalu dihatimu, dan ingatlah
juga disini aku akan selalu mencintaimu. i love you half to death, my
Najla.
love, Liam
THE END
aku gak benci danielle kok ini cuman imagine aja :)
Komentar sangat diterima ;)
- saras xx
buatan kak Saras https://twitter.com/asasaras admin https://twitter.com/oneDforINA
Sabtu, 29 Desember 2012
Jumat, 28 Desember 2012
Cerpen "cerita terakhir Nesya"
Cinta
Terakhir Nesya
22 Oktober
2010
Satu persatu
bulir air hujan membasahi bumi, semakin lama air itu semakin deras, membuat
semua orang berlari untuk menghindarinya. Namun Ryan tidak beranjak dari tempat
nya, membiarkan baju hitam nya basah kuyup terkena air hujan. Di depan sebuah
pusaran, air mata Ryan tumpah tak terbendung, seakan tak mau kalah dengan deras
nya hujan. Dia tidak bias memaafkan dirinya atas kehilangan sahabat nya,
sahabat yang dicintainya. Tiba – tiba ada sesorang yang memanyungi nya dari
belakang.
“apakah kamu
yang bernama Ryan ?” Tanya mama Nesya.
Ryan segera
menghapus air matanya dan menoleh, “iya saya Ryan” jawabnya.
“tante
menemukan buku ini di kamar Nesya, buku yang sangat berharga bagi nya dan saya
kira kamu lebih pantas mengambil nya, ambil lah!”
Ryan menerima sebuah buku dari tangan mama Nesya dan segera berteduh.
20 Oktober
2010
“yap! Sudah diputuskan” kata Nesya dengan
tekat bulat dan pancaran mata penuh semangat.
“Malam ini
Nesya Rahma Andini menyatakan, bahwa besok akan menyatakan cinta nya kepada
Ryan Firmansyah. Kalau kata Vierra sih aku tak mau menunggu terlalu lamaaa, tapi
kalau aku ditolak gimana ?” kening Nesya pun berkerut.
Ryan
merupakan sahabat Nesya, dengan badan jangkung, putih bersih, pintar di kelas,
dan jago bermain basket sudah mampu menarik perhatian para cewek. Nesya sangat
bangga dengan dirinya sendiri karna dia adalah satu – satu nya cewek yang bisa
dekat dengan Ryan, sang pangeran berkuda putih di sekolahnya. Hal ini tidak
lain karna Nesya teman sekelas dan sebangku dengan Ryan. Lama kelamaan
pertemanan mereka menjadi persahabatan. Di mana ada Ryan di situ ada Nesya.
“namun hanya
satu yang dibingungkan Nesya, sejak pertama kenal, Ryan belum pernah punya
pacar, atau jangan – jangan dia Gay lagi, selama ini banyak cewek yang nembak
tapi selalu ditolak”
Pikiran
Nesya menjadi ngelantur setiap kali nama Ryan masuk ke dalam otak nya. Sebelum
pikiran yang aneh – aneh itu menjadi – jadi, dia segera menutup buku harian nya
dan segera bergegas untuk tidur.
21 Oktober
2010
Keesokan paginya, Nesya segera bersiap – siap untuk berangkat ke sekolah, “oke.
Tidak ada yang ketinggalan, dan pastinya hati sudah siap, Let’s go!”
“Ma, Nesya berangkat” sambil menyium kedua pipi mamanya dengan penuh kasih
sayang.
“hati – hati yaa, apa perlu mama antar ?”
“Gak perlu ma, Nesya kan udah gede, sekarang aja Nesya udah kelas 2 SMA, emang
Nesya masih TK pake diater melulu ?” cibir Nesya sambil ngeloyor pergi.
Masih dengan semangat tinggi, Nesya memasuki gerbang sekolah. Tanpa ia sadari,
ada sebuah mobil memasuki kawasan sekilah, memang pemandangan seperti ini biasa
ditemui Nesya, tetapi ketika melihat seorang yang keluar dari mobil tersebut
adalah Ryan, ini tidak seperti yang bisanya bagi Nesya. Dan yang lebih aneh,
seorang cewek cantik yang merupakan idaman para cowok, turun dari mobil itu,
ini yang mebuat Nesya mendadak berubah.
Sampai di kelas, Nesya melihat raut wajah Ryan yang sangat senang, seperti saat
Ryan turun dari mobil bersama cewek tadi, namun hati Nesya telah hancur.
“hai cicak!” ledek Ryan, berharap mendapat tanggapan heboh dari Nesya, seperti
biasa. Namun Nesya tidak peduli.
Ryan sadar ada yang berubah dari Nesya, Ryan menebak – nebak apa yang terjadi
dengan sahabat nya ini, “apa bau badan ku tidak enak ?” bathin Ryan, seketika
itu dia mencium bajunya, “wangi kok, terus apa ?”
Ryan semakin bingung, dan dia pun berkata “aha, pasti ini masalah yang sangat
penting, yaitu masalah.. jeeeng jeeeng.. SAKIT GIGI ? hahaha” Ryan cekikikan
sendiri, sementara itu, Nesya tetap diam dengan seribu tanya.
Saat di kantin, Ryan dan Nesya duduk bersama, “cak, lu kenapa sih ?”
Tanya Ryan sambil menyusrup makanan nya.
“kamu ingat waktu ertama kali kita bertemu? Kita berada dalam daftar siswa baru
yang dapat hukuman dari kakak-kakak OSIS, aat itu kamu memakai seragam SMP dan
topi kantong plastic. Itu merupakan kenangan lucu hingga akhirnya kita
bersahabat. Tapi aku salah, aku tidak bias membohongi perasaan ku, aku memiliki
perasaan yang lebih dari sahabat kepadamu, apa yang harus aku lakukan?”
“maaf Sa, bukan maksudku untuk menyakitimu, tapi emang sebaiknya kita
bersahabat saja, aku sudah mempunya Nandi. Aku tau jika kamu bersama ku, kamu
akan banyak terluka” kata Ryan dengan suara yang hamper pecah, sekuat tenaga
aku menahan bulir air mata yang hendak jatuh.
Tak terasa
air mata Nesya pun keluar, mendengar pernyataan dari Ryan membuat bumi seolah
berhenti. Mungkin dia akan terima jika Ryan mengatakanya sebelum dia memiliki
Nandi, tapi penolakan ini seolah cintanya telah direbut cewek lain, dan itu
terasa amat perih.
Ryan menoleh ke arah Nesya dan kaget melihat Nesya menangis. “kamu tidak
apa-apa?” Tanya Ryan dengan nada terbata-bata.
“aku tidak apa-apa!!” kata Nesya sambil
berlari menjauhi Ryan, dan Nesya pun terus berlari air matanya semakin banyak
keluar. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, dia tak sadar bahwa
dirinya terus berlari melewati gerbang, dan tanpa ia sadari, sebuah mobil
melaju kencang, dan akhirnya…..
“Tiiiiiiit.. bruk..”
Nesya masih bias melihat Ryan berlari
menghampirinya.namun, sedikit demi sedikit Nesya tidak dapat melihat, dan
semuanya menjai gelap.
Ketika mereka membawa Nesya ke rumah sakit, Nesya pun tidak dapat diselamatkan,
dan akhirnya dia pergi untuk selama-lamanya.
22 Oktober
2010
Di pojok kamar,
Ryan diam membisu, hanya kedua matanya yang terus di aliri air mata. Kedua
matanya terus mengikuti lembar demi lebar buku harian yang ia pegang, mama
Nesya yang memberikan itu kepadanya ketika pemakaman Nesya.
Buku harian itu berisikan semua perasaan Nesya terhadap Ryan saat mereka
pertama kali bertemu,Nesya sudah jatuh cinta kepadanya. Kemudian saat naik
kelas, Neya sangat senang bias sekelas lagi dengan Ryan.
Ryan sadar,
betapa besar cinta sahabat nya itu kepadanya. Namun saying, kini dia tidak bias
membalas semua cinta yang diberikan Nesya. Saat cintanya kepada Nesya semakin
besar, kini Nesya telah pergi membawa cintanya sendiri.
TAMAT
Terimakasih sudah
membaca cerita saya, kapan-kapan mampir lagi ya ke blog saya, jangan lupa
komentarnya ^^ TWITTER: NNailufar
Langganan:
Postingan (Atom)

