Cinta
Terakhir Nesya
22 Oktober
2010
Satu persatu
bulir air hujan membasahi bumi, semakin lama air itu semakin deras, membuat
semua orang berlari untuk menghindarinya. Namun Ryan tidak beranjak dari tempat
nya, membiarkan baju hitam nya basah kuyup terkena air hujan. Di depan sebuah
pusaran, air mata Ryan tumpah tak terbendung, seakan tak mau kalah dengan deras
nya hujan. Dia tidak bias memaafkan dirinya atas kehilangan sahabat nya,
sahabat yang dicintainya. Tiba – tiba ada sesorang yang memanyungi nya dari
belakang.
“apakah kamu
yang bernama Ryan ?” Tanya mama Nesya.
Ryan segera
menghapus air matanya dan menoleh, “iya saya Ryan” jawabnya.
“tante
menemukan buku ini di kamar Nesya, buku yang sangat berharga bagi nya dan saya
kira kamu lebih pantas mengambil nya, ambil lah!”
Ryan menerima sebuah buku dari tangan mama Nesya dan segera berteduh.
20 Oktober
2010
“yap! Sudah diputuskan” kata Nesya dengan
tekat bulat dan pancaran mata penuh semangat.
“Malam ini
Nesya Rahma Andini menyatakan, bahwa besok akan menyatakan cinta nya kepada
Ryan Firmansyah. Kalau kata Vierra sih aku tak mau menunggu terlalu lamaaa, tapi
kalau aku ditolak gimana ?” kening Nesya pun berkerut.
Ryan
merupakan sahabat Nesya, dengan badan jangkung, putih bersih, pintar di kelas,
dan jago bermain basket sudah mampu menarik perhatian para cewek. Nesya sangat
bangga dengan dirinya sendiri karna dia adalah satu – satu nya cewek yang bisa
dekat dengan Ryan, sang pangeran berkuda putih di sekolahnya. Hal ini tidak
lain karna Nesya teman sekelas dan sebangku dengan Ryan. Lama kelamaan
pertemanan mereka menjadi persahabatan. Di mana ada Ryan di situ ada Nesya.
“namun hanya
satu yang dibingungkan Nesya, sejak pertama kenal, Ryan belum pernah punya
pacar, atau jangan – jangan dia Gay lagi, selama ini banyak cewek yang nembak
tapi selalu ditolak”
Pikiran
Nesya menjadi ngelantur setiap kali nama Ryan masuk ke dalam otak nya. Sebelum
pikiran yang aneh – aneh itu menjadi – jadi, dia segera menutup buku harian nya
dan segera bergegas untuk tidur.
21 Oktober
2010
Keesokan paginya, Nesya segera bersiap – siap untuk berangkat ke sekolah, “oke.
Tidak ada yang ketinggalan, dan pastinya hati sudah siap, Let’s go!”
“Ma, Nesya berangkat” sambil menyium kedua pipi mamanya dengan penuh kasih
sayang.
“hati – hati yaa, apa perlu mama antar ?”
“Gak perlu ma, Nesya kan udah gede, sekarang aja Nesya udah kelas 2 SMA, emang
Nesya masih TK pake diater melulu ?” cibir Nesya sambil ngeloyor pergi.
Masih dengan semangat tinggi, Nesya memasuki gerbang sekolah. Tanpa ia sadari,
ada sebuah mobil memasuki kawasan sekilah, memang pemandangan seperti ini biasa
ditemui Nesya, tetapi ketika melihat seorang yang keluar dari mobil tersebut
adalah Ryan, ini tidak seperti yang bisanya bagi Nesya. Dan yang lebih aneh,
seorang cewek cantik yang merupakan idaman para cowok, turun dari mobil itu,
ini yang mebuat Nesya mendadak berubah.
Sampai di kelas, Nesya melihat raut wajah Ryan yang sangat senang, seperti saat
Ryan turun dari mobil bersama cewek tadi, namun hati Nesya telah hancur.
“hai cicak!” ledek Ryan, berharap mendapat tanggapan heboh dari Nesya, seperti
biasa. Namun Nesya tidak peduli.
Ryan sadar ada yang berubah dari Nesya, Ryan menebak – nebak apa yang terjadi
dengan sahabat nya ini, “apa bau badan ku tidak enak ?” bathin Ryan, seketika
itu dia mencium bajunya, “wangi kok, terus apa ?”
Ryan semakin bingung, dan dia pun berkata “aha, pasti ini masalah yang sangat
penting, yaitu masalah.. jeeeng jeeeng.. SAKIT GIGI ? hahaha” Ryan cekikikan
sendiri, sementara itu, Nesya tetap diam dengan seribu tanya.
Saat di kantin, Ryan dan Nesya duduk bersama, “cak, lu kenapa sih ?”
Tanya Ryan sambil menyusrup makanan nya.
“kamu ingat waktu ertama kali kita bertemu? Kita berada dalam daftar siswa baru
yang dapat hukuman dari kakak-kakak OSIS, aat itu kamu memakai seragam SMP dan
topi kantong plastic. Itu merupakan kenangan lucu hingga akhirnya kita
bersahabat. Tapi aku salah, aku tidak bias membohongi perasaan ku, aku memiliki
perasaan yang lebih dari sahabat kepadamu, apa yang harus aku lakukan?”
“maaf Sa, bukan maksudku untuk menyakitimu, tapi emang sebaiknya kita
bersahabat saja, aku sudah mempunya Nandi. Aku tau jika kamu bersama ku, kamu
akan banyak terluka” kata Ryan dengan suara yang hamper pecah, sekuat tenaga
aku menahan bulir air mata yang hendak jatuh.
Tak terasa
air mata Nesya pun keluar, mendengar pernyataan dari Ryan membuat bumi seolah
berhenti. Mungkin dia akan terima jika Ryan mengatakanya sebelum dia memiliki
Nandi, tapi penolakan ini seolah cintanya telah direbut cewek lain, dan itu
terasa amat perih.
Ryan menoleh ke arah Nesya dan kaget melihat Nesya menangis. “kamu tidak
apa-apa?” Tanya Ryan dengan nada terbata-bata.
“aku tidak apa-apa!!” kata Nesya sambil
berlari menjauhi Ryan, dan Nesya pun terus berlari air matanya semakin banyak
keluar. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, dia tak sadar bahwa
dirinya terus berlari melewati gerbang, dan tanpa ia sadari, sebuah mobil
melaju kencang, dan akhirnya…..
“Tiiiiiiit.. bruk..”
Nesya masih bias melihat Ryan berlari
menghampirinya.namun, sedikit demi sedikit Nesya tidak dapat melihat, dan
semuanya menjai gelap.
Ketika mereka membawa Nesya ke rumah sakit, Nesya pun tidak dapat diselamatkan,
dan akhirnya dia pergi untuk selama-lamanya.
22 Oktober
2010
Di pojok kamar,
Ryan diam membisu, hanya kedua matanya yang terus di aliri air mata. Kedua
matanya terus mengikuti lembar demi lebar buku harian yang ia pegang, mama
Nesya yang memberikan itu kepadanya ketika pemakaman Nesya.
Buku harian itu berisikan semua perasaan Nesya terhadap Ryan saat mereka
pertama kali bertemu,Nesya sudah jatuh cinta kepadanya. Kemudian saat naik
kelas, Neya sangat senang bias sekelas lagi dengan Ryan.
Ryan sadar,
betapa besar cinta sahabat nya itu kepadanya. Namun saying, kini dia tidak bias
membalas semua cinta yang diberikan Nesya. Saat cintanya kepada Nesya semakin
besar, kini Nesya telah pergi membawa cintanya sendiri.
TAMAT
Terimakasih sudah
membaca cerita saya, kapan-kapan mampir lagi ya ke blog saya, jangan lupa
komentarnya ^^ TWITTER: NNailufar


Tidak ada komentar:
Posting Komentar